Sarana Meditama positif bahwa kinerja perusahaannya akan membaik kedepannya walau terdapat tantangan dari kebijakan baru pemerintah. Kebijakan baru pemerintah yang dimaksud adalah penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sarana Meditama Positif Kinerja Membaik

Penerapan kembali PSBB di Jakarta terbukti menjadi tantangan yang cukup besar terhadap beberapa perusahaan akibat terbatasnya operasional. Hal ini juga tidak luput dari emiten pengelola Rumah Sakit OMNI, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk.

CEO Group OMNI Hospital, Maria Theresia Yulita, mengungkapkan bahwa volume pasien memang mengalami penurunan selama PSBB. Namun, penurunannya tidak sama dengan PSBB pertama di kuartal II-2020. Menurut Maria, kondisi saat ini adalah kondisi yang cenderung membaik walau terjadi penerapan PSBB yang sama.

Omni Hospital menyatakan bahwa bed occupancy ratio (BOR) selama PSBB bisa menurun 30% hingga 40% jika dibandingkan dengan keadaan normal. Tetapi, kedepannya perusahaan masih optimistis volume pasien akan meningkat, mengingat masyarakat mulai menerima kondisi normal baru. Sehingga, masyarakat tidak akan takut atau merasa khawatir berobat ke rumah sakit.

Langkah Kedepannya

Namun, walau pihak emiten positif, masyarakat juga akan melihat cara rumah sakit dalam menangani risiko penularan. Sehingga, hal tersebut menjadi faktor penentu bagi kinerja kedepannya. Meski yakin tingkat pengunjungan akan pulih, emiten SAME tetap menyediakan layanan daring bagi pasien yang masih khawatir berobat ke rumah sakit. Layanan ini memungkinkan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus bertatap muka. Selain itu, terdapat inovasi lainnya juga seperti booster dan vaksinasi,  screening test,  dan produk inovasi baru lainnya.

Baca juga: Mayora Positif Terhadap Proyeksi Penjualannya Tahun Ini!

Sebagai informasi, sepanjang enam bulan pertama 2020 SAME mencatatkan penurunan pendapatan hingga 58,72% secara tahunan menjadi Rp 215,67 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, SAME mengantongi pendapatan hingga Rp 522,28 miliar. SAME juga menanggung total rugi komprehensif yang dapat disalurkan kepada pemilik entitas induk hingga Rp 47,45 miliar. Sebagai perbandingan, di semester pertama tahun lalu, SAME masih bisa mengantongi laba hingga Rp 4,84 miliar.

Sahamnya sendiri sudah naik sekitar 14% dari sejak pertengahan September 2020 dimana saham tersebut mengalami penurunan dari awal bulan. Untuk saat ini, pergerakan masih terus terlihat naik, namun dengan kondisi perekonomian yang masih belum pasti, kedepannya investor disarankan untuk berhati-hati. Maksud dari pernyataan tersebut adalah investor diharapkan untuk menganalisis lebih dalam dan melakukan diversifikasi, terutama dalam saham.

Dilansir dari KONTAN

Tags: