(ADHI), PT Adhi Karya (Persero) Tbk, semester pertama 2021, emiten konstruksi ini membukukan laba bersih tumbuh 20% menjadi Rp8,28 miliar dari sebelumnya priode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,90 miliar. Sebaliknya pendapatan perseroan tercatat Rp4,44 triliun atau turun 19,58% dari periode yang sama tahun lalu Rp5,52 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan di Jakarta, kemarin.

Adapun, jumlah beban usaha ADHI mampu ditekan menjadi Rp334,32 miliar dari sebelumnya Rp387,60 miliar. Selanjutnya manfaat pajak tangguhan tercatat senilai Rp947,58 juta atau membaik dari posisi beban Rp1,21 miliar pada semester I/2020. Jumlah beban pajak penghasilan bersih pun ditekan menjadi Rp4,27 miliar dari sebelumnya Rp6,77 miliar. Adapun, total aset ADHI mengalami kenaikan sebesar 2,19% menjadi Rp38,93 triliun sejak akhir 2020.

Kemudian ekuitas tumbuh 0,14% menjadi Rp5,58 triliun dan liabiltias naik 2,54% menjadi Rp33,34 triliun. Namun, kas dan setara kas ADHI anjlok 71,61% menjadi Rp670,93 miliar dari akhir 2020 senilai Rp2,36 triliun. Adapun, jumlah aset lancar naik 1,02% menjadi Rp30,39 triliun dan jumlah aset tidak lancar naik 6,87% menjadi Rp8,55 triliun.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan bisa naik sebesar-besarnya menjadi Rp13,52 triliun. Target tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 25% dari pendapatan pada 2020. Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Farid Budiyanto pernah bilang, perseroan menargetkan kenaikan pendapatan sebesar 20% – 25% pada 2021. Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2020, ADHI membukukan pendapatan Rp10,82 triliun. Dengan demikian, target tersebut setara dengan Rp12,98 triliun – Rp13,52 triliun.

Disampaikan Farid, target itu dipatok berbekal order book yang dicatatkan ADHI pada 2020 senilai Rp49,2 triliun dengan perolehan kontrak baru sepanjang tahun lalu Rp19,7 triliun.

“Distribusi vaksin Covid-19 juga sudah masif sehingga dapat meningkatkan produktivitas operasional di lapangan,”ujarnya.

Lebih lanjut, koreksi pendapatan ADHI pada 2020 membuat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok 96,39% menjadi Rp23,97 miliar dari laba sebelumnya Rp663,80 miliar. Kendati demikian, margin laba kotor (gross profit margin) perseroan mampu terangkat menjadi 16% pada 2020 dari 15,3% pada 2019.

Farid menunjukkan walaupun pada masa pandemi perseroan juga dapat mempertahankan margin laba usaha (operating profit margin) pada kisaran 9%. Arus kas operasi perseroan juga tercatat positif sebesar Rp1,4 triliun, meningkat sebesar Rp900 miliar dibandingkan tahun sebelumnya Rp500 miliar. Hal ini disebabkan adanya pembayaran proyek besar seperti Jalan Tol Sigli – Banda Aceh dan LRT Jabodebek.

Baca juga: Mengulas Loyonya Kinerja UNVR: Laba Turun 15,85 Persen pada Semester I 2021