Tahun 2021 diprediksikan bukan menjadi tahun yang bersahabat untuk sektor barang-barang konsumsi alias consumer goods. Pasalnya sifat dasar sektor ini cenderung pengaman, meski krisis atau perlambatan ekonomi, tidak akan terlalu mempengaruhi kinerja perusahaan dari sektor ini.

Saham Konsumsi Tertekan

Saat terjadi krisis, saham-saham dari sektor ini cenderung kuat bertahan, pasalnya orang-orang tetap akan mandi dan mengonsumsi makan sehingga produk jualan perusahaan consumer goods tetap akan terjual.

Namun berdeda dengan krisis yang dipicu oleh pandemi covid-19, situasi ini tampaknya menjadi sektor konsumer akan ditinggalkan, karena 2021 digadang-gadang akan menjadi tahun pemulihan ekonomi.

Sayangnya, dampaknya akan dilihat dari pergeseran sektor dari tahun sebelumnya dimana institusi raksasa mulai mengalihkan dananya ke saham sektoral dari barang konsumsi.

Tentu saja pergeseran sektor ini menyebabkan saham-saham pengaman, salah satunya saham consumer goods harganya tertekan dan menjadi kurang menarik untuk dilirik.

Salah satu saham tersebut adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang sahamnya sudah tertekan cukup parah 7,83%. Bahkan UNVR tercatat sudah ambles 11,9% sejak awal tahun.

Adanya pergeseran smart money dari saham-saham pengaman juga terkonfirmasi di saham UNVR dengan adanya aksi jual asing. Hal ini terlihat dari investor asing sudah melepas saham UNVR sebanyak Rp 5,3 miliar sejak awal tahun.

Unilever Masih Stagnan

Buruknya kinerja harga saham UNVR sebenarnya sangat disayangkan mengingat belum lama ini perseroan baru saja melakukan aksi korporasi. Aksi tersebut adalah pemecahan saham alias stock split dimana pada awal tahun 2020, saham UNVR dipecah 1:5.

Sejak stock split di awal tahun 2020, ternyata saham UNVR bukanya melesat namun turun 22,91%. Bila dilihat lebih panjang sejak awal tahun 2018, saham UNVR sudah anjlok parah 42,08%.

Hal ini ternyata disebabkan oleh koreksi dari valuasi saham itu sendiri, dan ditambah dengan dampak kinerja namun tidak secara signifikan.

Baca juga: Bank Panin Lepas Saham PNBS, Kepemilikan Publik Meningkat Jadi 7,6%

Tercatat nilai buku alias PBV, UNVR adalah 50,03 kali lipat dari nilai bukunya yang tergolong tinggi dibandingkan rata-rata PBV saham yang baik yaitu 2 kali lipat.

Sedangkan apabila menggunakan metode valuasi harga dibandingkan dengan laba bersihnya alias PER, maka UNVR ditransaksikan 34,48 kali lipat laba bersihnya. Angka ini tergolong tinggi apabila dibandingkan dengan mayoritas saham baik dengan PER di bawah 20.

Tercatat selama 5 tahun terakhir, omset perusahaan hanya mampu tumbuh sebanyak 1,78% per tahun. Sangat rendah dibandingkan inflasi Indonesia selama 5 tahun terakhir yang berada di kisaran 3% – 5% yang membuat kurang menarik. .

Tentu saja valuasi perusahaan baik PBV maupun PER yang sudah sangat premium dan fakta bahwa perseroan sudah tergolong stabil. Sehingga menyebabkan perlahan-lahan harga saham UNVR terkoreksi dan mencari keseimbangan baru.

 

Tags: