Neraca dagang Eropa dikabarkan telah dipublikasi pada 17.00 WIB kemarin, 15 Februari 2021. Terlihat bahwa neraca dagang Eropa sedang positif, namun yang mengejutkan adalah surplus ini diikuti dengan sektor industri yang turun.

Neraca Dagang Eropa Surplus

Dapat dilihat bahwa untuk Bulan Desember 2020, neraca dagang Eropa berada di surplus sekitar Rp493,4 Triliun. Angka ini merupakan sebuah hal yang positif akibat sebelumnya, mayoritas pasar memprediksi bahwa surplus akan terjadi di angka Rp427,5.

Data ini juga merupakan pertanda positif bahwa perekonomian Eropa mulai kembali bergerak pulih walau kondisi Covid-19 belum mereda. Hingga saat ini, Covid-19 di Eropa masih terlihat naik secara dan belum mereda.

Namun, kabar baik dari pernyataan tersebut adalah Eropa masih terlihat kuat akibat saat itu neraca dagang masih lebih baik dari bulan sebelumnya. Pada November 2020, data neraca dagang Eropa masih surplus namun berada di Rp435,9.

Tapi, yang membuat mayoritas pasar bingung adalah sektor industri yang turun di periode yang sama dengan apresiasi dari surplus neraca dagang.

Sektor Industri Tidak Sejalan

Hal ini disebabkan umumnya neraca dagang didukung secara signifikan oleh sektor industri sehingga umumnya pergerakannya sejalan.

Namun dengan adanya Covid-19 perekonomian terutama sektor industri menjadi terhambat untuk beroperasional. Sehingga, saat ini angkanya terlihat turun yang membuat asumsi bahwa saat ini perputaran uang didukung oleh sektor jasa.

Kondisi sektor industri saat Bulan Desember 2020 sangat lebih buruk dibandingkan dengan Desember 2019. Hal ini disebabkan oleh angka Desember 2020 yang berada di 0,8% dibandingkan dengan Desember 2019 yang berada di -0,6%.

Baca juga: Neraca Dagang Indonesia Surplus, Rupiah Terus Kalahkan Dolar Amerika

Tetapi, kondisi saat ini mencerminkan bahwa perekonomian Eropa masih kuat walau terbatas dalam ruang gerak perekonomiannya. Sehingga, kemungkinan besar saat ini terdapat sentimen positif yang juga dapat mendorong Euro untuk terus naik.

Dengan naiknya mayoritas aset berisiko, Euro nampaknya juga akan ikut terdorong, terutama dengan adanya kebijakan stimulus Amerika.

Walaupun begitu, potensi tekanan dari kerangka kebijakan stimulus Eropa juga dapat menekan nilai Euro. Sehingga saat ini perhatian dapat tertuju pada kebijakan moneter dan fiskal jangka panjang

Tags: