Di tengah serbuan sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, IHSG turun 1,42% menjadi 5.985,52. Nilai transaksi bursa tipis Rp 12,1 triliun, sedangkan investor asing mencetak penjualan bersih Rp1,03 triliun.

IHSG Rawan Koreksi Awal Bulan

Jatuhnya saham-saham lapis atas alias blue chip ini ditakutkan akan mengakibatkan margin call yang berujung pada forced sell.

Diketahui IHSG sudah terkoreksi sejak 29 Maret. Saat itu IHSG ambruk 0,46%, 30 Maret 1,55%, dan terakhir kemarin 31 Maret IHSG terkoreksi 1,42%.

Indikasi akan terjadi forced sell juga terlihat dari kecilnya transaksi bursa pada perdagangan kemarin yang hanya berkisar di angka Rp12 triliun. Umumnya, transaksi di IHSG berkisar pada Rp15 triliun.

Angka yang kecil ini dapat menandakan banyaknya para trader yang terjebak sehingga tidak bisa melakukan transaksi.

Koreksi di bursa nasional terjadi menyusul kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri yang menyergap bursa secara bersamaan.

Sentimen negatif dari dalam negeri muncul dari wacana pengurangan investasi saham dan reksa dana BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek).

Sentimen Negatif Dalam Negeri

Diketahui BPJS merupakan salah satu investor institusi raksasa. Sehingga, apabila porsi investasi dikerdilkan berpotensi adanya arus uang keluar dari pasar modal dalam jumlah yang lumayan.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan rencana pengurangan investasi. Kabar tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dan Komisi IX DPR.

Langkah ini dilakukan dalam rangka Asset Matching Liabilities (ALMA) Jaminan Hari Tua (JHT). Ada tiga strategi yang disampaikan BP Jamsostek.

Pertama, strategi investasi dengan melakukan perubahan dari saham dan reksa dana ke obligasi dan investasi langsung sehingga bobot instrumen saham dan reksa dana semakin kecil.

Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Kurangi Investasi, ANTM Masih Kuat

Sementara itu, risiko pelarian modal kian membayang tekanan jual sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun ke posisi tertinggi selama 14 bulan yakni di level 1,7%.

Namun dari dalam negeri sendiri, sentimen negatif mash terfokus terhadap kabar dari BPJS yang nampaknya akan mengurangi investasinya. Sehingga sentimen tersebut menyebabkan kekhawatiran akan tekanan jual lebih dalam.

Dilansir dari CNBC Indonesia

Tags: