Harga kripto utama hari ini (18/04) masih terkoreksi. Selain itu, likuiditas di Amerika Serikat (AS) semakin tipis karena kian ketatnya kebijakan moneter bank sentral AS.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, Bitcoin melemah 1,59% ke level harga US$ 39.767,7/koin atau setara dengan Rp 570.467.657/koin (asumsi kurs Rp 14.345/US$), Ethereum merosot 2,2% ke level US$ 2.991,72/koin atau Rp 42.916.223/koin.

Sementara untuk token alternatif (altcoin) lainnya seperti XRP ambles 2,53% ke US$ 0,7572/koin (Rp 10.862/koin), Solana terkoreksi 1,48% ke US$ 100,69/koin (Rp 1.444.398/koin), Cardano ambrol 2,98% ke US$ 0,9228/koin (Rp 13.238/koin), Terra ambruk 3,11% ke US$ 78,41/koin (Rp 1.124.791/koin), dan Avalanche terpangkas 2,08% ke US$ 76,17/koin (Rp 1.092.659/koin).

Pada Sabtu lalu, Bitcoin dan kripto utama lainnya sempat stabil setelah terkoreksi sepanjang pekan lalu. Namun, karena investor masih memasang sikap hati-hati, Bitcoin dan kripto lainnya kembali terkoreksi pada hari ini, meski koreksinya berada di kisaran 1%-2%.

Investor di pasar kripto masih cenderung merespons negatif dari kembali meningginya inflasi Negeri Paman Sam dan potensi pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS.

Sebelumnya pada Selasa pekan lalu waktu AS, Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan laju inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) pada Maret 2022 mencapai 8,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Angka ini lebih tinggi dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 8,4% sekaligus jadi rekor tertinggi sejak Desember 1981.

Sedangkan inflasi dari sisi produsen (Producer Price Index/PPI) AS pada Maret lalu melompat 11,2% secara tahunan (yoy).

Lonjakan angka inflasi Negeri Paman Sam tersebut memicu ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed. The Fed telah menaikkan suku bunga acuan pada Maret lalu dan diperkirakan menaikkan lebih banyak suku bunga acuannya sepanjang tahun ini.

Baca juga: Volume Pengguna Aktif Harian OpenSea Turun 30% dalam Seminggu

Tidak hanya itu, perang Rusia dan Ukraina yang jauh dari kata ‘damai’ menambah daftar sentimen negatif. Ketidakpastian kondisi makroekonomi global dan konflik geopolitik Rusia-Ukraina-Negara Barat kian membuat para trader gelisah.

Di lain sisi, marketplace non-fungible token (NFT) terbesar di dunia, yakni OpenSea telah menghadapi beberapa tuntutan hukum menyusul peretasan pada platform-nya. Jimmy McKimmy, pemilik NFT dari Texas pada Sabtu lalu menggugat OpenSea untuk pemulihan kerugian lebih dari US$ 1 juta dari NFT curiannya, yakni Bored Ape #3475.

Kasus peretasan telah menyebabkan lebih banyak ketidakpastian di komunitas NFT, yang dapat menjadi sumber permintaan yang melambat dalam beberapa bulan terakhir.

McKimmy tidak sendirian, banyak penggunanya juga melakukan hal yang sama. OpenSea baru-baru ini mengeluarkan pengembalian dana sekitar US$ 1,8 juta kepada pengguna yang NFT-nya dicuri.

Namun, kebijakan OpenSea tentang penggantian tersebut tidak jelas hingga saat ini. Platform mengharuskan pengguna untuk menghubungkan akun mereka ke dompet digital, yang berarti orang lain dapat melihat NFT yang tidak terdaftar dan membuat penawaran potensial untuk aset tersebut.

Dalam kasus McKimmy, peretas membuat penawaran, meretas kode, menerima tawaran untuk McKimmy, dan kemudian menjual kembali NFT.

Pada awal bulan ini, akun Discord OpenSea juga diretas dan diposting tautan phishing yang disamarkan sebagai “mint NFT siluman” dan digunakan untuk mencuri NFT Mutant Ape Yacht Club #8662 dari pengguna.

Insiden serupa memicu komentar di Twitter dan menyebabkan perlambatan perdagangan NFT secara keseluruhan.

 

Sumber

Baca juga: 5 Marketplace NFT yang Bisa Mengungguli OpenSea di Tahun 2022

Tags: