Dalam beberapa jam harga Bitcoin (BTC) anjlok sebesar 3,38% dan kembali di angka $8.835 atau sekitar Rp127 juta. Penurunan mendadak ini terjadi setelah harga Bitcoin sempat naik menjadi $9.188. Banyak trader menyarankan untuk membeli aset sebelum kembali naik ke angka $9.300.

Trader mengantisipasi kenaikan di $9.150 atau $9.300 dan saat penentuan time frame harian menunjukkan angka di atas 20-MA dari indikator Bollinger Band di $8.858.

Jika kenaikan $8.900 tidak dapat dicapai, ada kemungkinan bahwa harga Bitcoin akan kembali turun ke 200-day moving average di $8.695 atau bahkan di $8.400 pada 128-DMA.

Michaël Van de Poppe, kontributor Cointeleghraph, mengatakan bahwa skema bearish mungkin terjadi setelah kenaikan  $9.150 yang melibatkan harga Bitcoin yang gagal mempertahankan 21-week moving average di $8.676. 

Poppe menjelaskan bahwa momentum harga $8.200 akan terlihat sebagai hasil akhir setelah melewati zona tersebut. Ia juga menekankan bahwa dari perspektif makro, struktur pasar Bitcoin lebih meyakinkan daripada mengkhawatirkan. 

Baca juga: Bitcoin Mengalami Krisis Identitas

Pasar telah melewati reli besar akhir-akhir ini, harga yang fluktuatif justru sehat bagi keberlangsungan pasar.

Dalam jangka pendek, mempertahankan 200-DMA dan kenaikan $8.900 sangat krusial atau akan ada kemungkinan kembali di angka $8.400. Penutupan mingguan di bawah 21-WMA akan menjadi sangat penting karena akan diamati oleh banyak trader.

Meskipun demikian, hingga saat ini Bitcoin belum pernah lebih rendah dari $8.400 sehingga bertahan di angka $9.150 jauh lebih memungkinkan daripada penurunan di bawah level support utama.

Ketika harga Bitcoin menurun, sebagian besar 20 Altcoin teratas ikut serta dengan penurunan sebesar 3% hingga 5%. Bitcoin Cash (BCH) turun 4,16%, Litecoin (LTC) TURUN 2,67%, Binance Coin (BNB) turun 5,03% dan Trion (TRX) juga turun 5,78%. 

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar cryptocurrency sekarang mencapai $256,6 dengan tingkat dominasi Bitcoin sebesar 63,3%.

Sumber