Bursa Asia dikabarkan mengalami penurunan secara menyeluruh hingga pukul 11.00 WIB. Dikabarkan bahwa pelemahan ini terjadi akibat imbas dari Bursa Saham Amerika setelah penutupan kemarin.

Bursa Asia Melemah

Pergerakan bursa Asia secara mayoritas masih berada di zona merah hingga pukul 11:00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Tercatat beberapa indeks mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga saat artikel ini ditulis. Indeks Nikkei Jepang turun 0,62%, Hang Seng Hong Kong turun 1,61%, Shanghai di China turun 0,99%, STI Singapura turun 0,11% dan, KOSPI turun 1,34%.

Akibat pelemahan Bursa Saham Asia, IHSG ikut terdampak dan juga terlihat melemah. Hingga pukul 11.00 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 0,12% ke level 5.052,24 dan tertutup di sesi pertama pada Rp 5.047,43. Pada pembukaan hari ini, IHSG cenderung stagnan dengan dibuka 0,01% ke level 5081,30.

Pelemahan Bursa Asia ini dikabarkan terjadi akibat imbas dari Bursa Amerika pada penutupan perdagangan Rabu kemarin. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 36,78 poin atau 0,13% menjadi 28.032,38. Namun, S&P 500 turun 15,71 poin atau 0,46% menjadi 3.385,49, dan Nasdaq turun 139,85 poin atau 1,25% menjadi 11.050,47. Turunnya indeks Nasdaq memperpanjang periode kelemahan untuk saham perusahaan teknologi dan menghilangkan apresiasi dua hari sebelumnya.

Pernyataan Bank Sentral Amerika

Depresiasi bursa saham ini juga didorong dari melemahnya perekonomian Amerika secara menyeluruh. Pelemahan ini terjadi akibat dari Covid-19 dan juga persepsi investor terhadap Amerika yang mulai negatif. Persepsi ini adalah akibat kebijakan ekspansif yang nampaknya akan terus dilakukan oleh Bank Sentral.

Bank Sentral Amerika, The Fed, berjanji untuk mempertahankan suku bunga rendah hingga mencapai tujuan pekerjaan maksimum. Hal ini disebabkan potensi apresiasi untuk tahun 2020, dengan prospek yang lebih sederhana untuk tahun 2021 dan 2022. Tetapi Ketua Fed, Jerome Powell menekankan perlunya lebih banyak stimulus dari pemerintah Washington, mencatat 11 juta orang masih kehilangan pekerjaan karena pandemi.

Baca juga: Otoritas Jasa Keuangan Mempertanyakan Dana Hasil IPO AGAR!

Akibat dari faktor ekspansif ini, ditambah dengan adanya target inflasi yang cukup tinggi yang ingin dikejar oleh bank sentral, nilai dari Dolar Amerika nampaknya akan terus tergerus. Hal ini berarti perekonomian Amerika akan lebih terlihat negatif walau prospek ekspor menjadi lebih menarik akibat harga yang akan lebih murah.

Namun, untuk kedepannya, kemungkinan perekonomian Amerika sendiri masih akan mengalami permasalahan dengan data pencairan dana bantuan yang naik. Ditambah dengan Dolar Amerika yang terus terdepresiasi akibat kebijakan ekspansif, masa depan Amerika nampaknya masih belum jelas. Sehingga, dengan Amerika yang menjadi kiblat bagi pasar modal global, IHSG juga nampaknya masih akan tergerus ditamba dengan sentimen PSBB.

Dilansir dari CNBC Indonesia

Tags: