PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) menjadi pendatang baru di indeks 20 BUMN paling likuid di bursa atau IDX BUMN 20. Perseroan menggantikan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) yang keluar dari daftar tersebut.

BRIS Masuk IDX BUMN 20

Dalam pengumuman yang disampaikan, bursa sebelumnya telah melakukan evaluasi besar atas indeks IDX BUMN 20. Hal ini dilakukan untuk menetapkan daftar saham dan menyesuaikan bobot atas saham-saham yang digunakan penghitungan indeks IDX BUMN 20.

Berdasarkan evaluasi tersebut, nantinya, IDX BUMN 20 akan berlaku mulai 1 Februari 2021 sampai dengan Juli 2021. IDX BUMN 20 merupakan indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan tercatat yang merupakan Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ), Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ) beserta afiliasinya.

Pada perdagangan Rabu kemarin, saham BRIS masih terkoreksi sebesar 6,95% ke level Rp 2.810 per saham. Meski demikian, sejak awal tahun, saham BRIS meroket 746,39% dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 27,82 triliun.

Menjadi Bank Syariah Terbesar

Kenaikan ini salah satunya sebagai sentimen positif merger BRIS sebagai surviving entity Bank Syariah Indonesia. Perkembangan terbaru, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa pra-peluncuran Bank Syariah Indonesia akan dilakukan pada awal Februari mendatang.

Tiga bank yang bergabung di BRIS yakni BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah. Ketiganya akan membentuk aset bersama senilai Rp 214,6 triliun dan diharapkan masuk TOP 10 global syariah bank dari sisi kapitalisasi pasar.

Baca juga: Lo Kheng Hong, Membeli Saham GJTL, Sudah Sampai 5% Saham Beredar

Bank BRIS hasil gabungan alias BSI juga akan menjadi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III dengan modal inti sebesar Rp 20,4 triliun. Pemerintah akan menjadi ultimate shareholder dari bank hasil penggabungan melalui bank-bank Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) sebagai pemegang saham bank hasil penggabungan.

Adapun komposisi pemegang saham BSI nantinya yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 51,2%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2%, dan investor publik 4,4%.

Tags: