Rupiah Menguat Setelah BBM Naik!

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar akan menjadi salah satu penggerak utama di pasar finansial Indonesia. Yang menarik, rupiah merespon dengan menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung menguat 0,1% ke Rp 14.880/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Harga Pertalite diputuskan naikdari Rp7.650 jadi 10.000 per liter, naik sekitar 30%.

“Ini adalah pilihan terakhir pemerintah, yaitu mengalihkan subsidi BBM. Sehingga harga beberapa jenis BBM yang selama ini subsidi akan alami penyesuaian,” kata Jokowi dalam Konferensi Pers Presiden Jokowi dan Menteri Terkait perihal Pengalihan Subsidi BBM ditayangkan akun Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (3/9/2022).

Jika berkaca dari kenaikan BBM subsidi sebelumnya, rupiah selalu menjadi korban. Tetapi, respon awal yang ditunjukkan hari ini justru penguatan.
Investor asing yang dikatakan lebih senang dengan kenaikan harga BBM subsidi bisa jadi memicu penguatan rupiah.

Baca juga: BBM Naik, IHSG Diproyeksi Jatuh!

“Walaupun kebijakan tersebut dapat meningkatkan inflasi, menaikkan suku bunga, dan merugikan konsumsi rumah tangga dalam jangka pendek, kebijakan tersebut akan menghilangkan kebijakan mengantung yang membuat orang asing enggan membeli aset dalam rupiah,” papar Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro dan tim dalam tulisannya, Jumat (26/8/2022).

Sementara itu dari eksternal dolar AS masih perkasa setelah rilis data tenaga kerja, hal ini membuat rupiah akan sulit melaju kencang.

Departemen Tenaga Kerja AS Jumat pekan lalu melaporkan sepanjang bulan Agustus, perekonomian AS dilaporkan mampu menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) sebesar 315.000 orang, sedikit di bawah estimasi Dow Jones 318.000 orang.

Meski demikian, data tersebut sudah cukup menunjukkan jika pasar tenaga kerja AS masih kuat meski The Fed sudah 4 kali menaikkan suku bunga dengan total 225 basis poin menjadi 2,25% – 2,5%.

Tingkat pengangguran dilaporkan naik menjadi 3,7% sementara rata-rata upah naik 0,3% month-on-month dan 5,2% year-on-year.

Data tenaga kerja bulan Agustus menjadi penting, sebab akan menjadi pertimbangan bank sentral AS (The Fed) sebelum kembali menaikkan suku bunga bulan ini.

Data ini akan membantu The Fed untuk memutuskan apakah kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, atau lebih tinggi, dan apakah itu lebih tepat ketimbang 50 basis poin.

 

Sumber

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Turun Lagi, Ini Penyebabnya

Tags: