Benchmark indeks Johannesburg, Afrika Selatan,  telah melakukan come back spektakuler dari titik nadir pada Maret karena terdapat tanda-tanda pandemi global virus corona dapat dikendalikan sehingga mendorong investor untuk kembali berinvestasi ke aset berisiko.

Peningkatan investasi ini disertai dengan volatilitas yang tinggi, artinya perlunya kehati-hatian yang lebih intens. Ukuran volatilitas 30 hari indeks telah menetapkan pencapaian rekor tertinngi baru sebesar 70,54. Rekor ini hadir dengan harga saham berayun dengan margin terliar mereka.

Harga Saham Afrika Selatan Dinilai Sebagai Saham yang Paling Fluktuatif

Semenjak peningkatan pasar saham bear pada bulan lalu, FTSE / JSE Afrika All Share Index telah melonjak sebesar 24% dari level terendah pada 19 Maret. Ini bisa jadi menandakan alasan teknis bahwa benchmark pasar saham telah memasuki pasar bullish.

“Banyak investor yang bersiap untuk membeli saham dengan narasi optimis dan mengabaikan fakta bahwa kita masih belum memiliki pemahaman penuh tentang seberapa banyak virus telah menyebar atau bagaimana ia berperilaku,” ungkap Lulama Qongqo, seorang analis di Mergence Investment Managers di Cape Town.

“Saya percaya pada para ilmuwan ketika mereka mengatakan bahwa akan membutuhkan 12 hingga 18 bulan bagi kita untuk memiliki vaksin untuk distribusi. Sampai saat itu, orang-orang, perusahaan, dan pemerintah mungkin perlu melangkah dengan hati-hati,” tambah Qongqo.

Baca juga: Rencana Australia Untuk Mendukung Pasar Saham Minyak di Dunia

Bechmark Afrika Selatan Menampakkan Pasar Bearish Tersingkat Sepanjang Sejarah

Penguat terbesar dalam rebound pasar saham antara lain, Mpact Ltd. (+ 626%), Hospitality Property Fund Ltd. (+ 124%), Curro Holdings Ltd. (+ 84%), Royal Bafokeng Platinum Ltd. (+ 82%), Anglo American Platinum Ltd. (+ 80%) dan Sasol Ltd. (+ 75%).

Indeks benchmark Johannesburg menunjukkan angka 1,3% lebih rendah pada pukul 12:17 siang, di Johannesburg. Menjadikan penurunan tahun ini menjadi 18%.

Peningkatan harga pasar saham ke arah yang lebih bearish memang sering kali mengundang para investor untuk kembali mulai berinvestasi pada aset yang lebih beresiko. Kendati demikian, harus diingat bahwa hingga saat ini stabilitas pasar saham juga belum bisa dipastikan.

Para analis berpendapat bahwa investor harus lebih berhati-hati dalam mengambil langkah investasi pada masa krisis kali ini.

 

Sumber

Tags: