PT Bank Mega Tbk (MEGA) menargetkan laba setelah pajak tahun 2021 bisa mencapai Rp 3,5 triliun, naik 16% atau Rp 500 miliar dibanding realisasi tahun 2020. Target tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib, dalam Public Expose 2021.

Bank Mega Targetkan Rp3,5 Triliun

Kostaman mengatakan bahwa target tersebut dibuat berdasarkan pemulihan ekonomi Indonesia dari pandemi pada tahun 2021. Meski demikian,

Kostaman mengatakan berapa pun pertumbuhan ekonomi Indonesia, Bank Mega optimistis akan terus tumbuh pada 2021.

Lebih rinci, Kostaman menjabarkan adanya target kenaikan aset sebesar 4,4% menjadi Rp 117 triliun pada 2021. Apresiasi ini diukur dengan perbandingan aset sepanjang 2020 yang realisasinya sebesar Rp 112 triliun.

Kredit kepada Pihak ketiga juga diharapkan bisa naik menjadi Rp 51 triliun dibanding tahun 2020 yang mencapai Rp 48 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga ditargetkan bisa meningkat 6,3% menjadi Rp 84 triliun dibanding dengan tahun 2020 yang sebesar Rp 79 triliun.

Kondisi Perusahaan

Bank Mega membukukan laba setelah pajak senilai Rp 3,01 triliun, atau melesat 50,2% jika dibandingkan dengan capaian setahun sebelumnya sebesar Rp 2 triliun.

Aset perusahaan juga melesat 11,3%, atau melampaui industri yang hanya naik 7,6%. Artinya, kenaikan profitabilitas Bank Mega sejalan dengan kenaikan aset, yang menunjukkan kinerja mereka memang prima secara riil dan tak cuma hitungan di atas kertas.

Baca juga: Saham HOKI Stock Split, Menjadi Saham Potensial di 2021 dan 2022

Bank Mega juga berhasil menjaga penyaluran kredit ke sektor yang selama ini mengalami pukulan terburuk di era pandemi, yakni ritel. Penyaluran kredit ritel Bank Mega mencapai Rp 1,22 triliun atau 100,7% di atas target internal.

Kemudian, sektor korporasi yang merupakan tulang punggung penyaluran kredit masih melesat 13,4% ke Rp 28,9 triliun. Bagi perusahaan, porsi kredit korporasi mencapai 54% dari total kredit yang dikucurkan pada 2020.

Kredit korporasi juga masih tumbuh ganda, yakni sebesar 13,4%, menjadi Rp 26,2 triliun. Artinya, perseroan masih jeli mencari pelaku usaha yang masih ekspansif meski menghadapi pandemi.

Dilansir dari CNBC Indonesia

Tags: