Reksadana Pasar Uang, Apa itu?

Bagi investor pemula atau investor yang lebih memilih instrumen investasi dengan risiko rendah alias konservatif, barangkali deposito atau emas menjadi pilihan.

Deposito cukup difavoritkan karena faktor kemudahan dan keamanan. Risikonya cenderung rendah karena simpanan dalam bentuk deposito juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan.

Sementara itu, emas menjadi salah satu opsi investasi berisiko rendah karena harganya yang cenderung naik dalam jangka panjang. Nilai intrinsik yang melekat pada emas juga membuatnya cocok dijadikan sebagai aset lindung nilai.

Eits, sebentar-sebentar… Sebenarnya ada satu lagi instrumen investasi dengan risiko rendah yang bisa memberikan cuan lebih tinggi dibanding deposito, atau bahkan jika dibanding emas. Dia adalah reksa dana pasar uang.

Reksa dana pasar uang adalah salah satu jenis reksa dana, selain reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, dan reksa dana campuran. Keempatnya dibedakan dari penempatan investasi pada efek yang dilakukan. Keempat jenis reksa dana tersebut punya risiko yang berbeda-beda.

Pada dasarnya, reksa dana pasar uang ini menempatkan dana investasi kita di instrumen pasar uang.  Apa sih instrumen pasar uang? Instrumen ini berisi surat-surat berharga dengan jatuh tempo kurang dari setahun yang bisa diperdagangkan di pasar uang (money market).

Misalnya, deposito berjangka, sertifikat deposito, surat berharga pasar uang, surat pengakuan utang, sertifikat Bank Indonesia, hingga obligasi yang jatuh temponya kurang dari setahun. Jadi risikonya cenderung lebih konservatif.

Berikut ini sejumlah informasi mengenai reksa dana pasar uang:

1. Untung Lebih Tinggi dari Deposito

Pada umumnya, sejumlah produk reksa dana pasar uang menghasilkan keuntungan yang lebih besar daripada deposito. Mengapa?

Seperti diketahui, reksa dana dikelola oleh manajer investasi. Manajer investasi menginvestasikan dana kelolaan reksa dana pasar uang ke instrumen seperti deposito atau obligasi jatuh tempo kurang dari setahun.

Dana kelolaan yang diinvestasikan bukan hanya Rp1 juta atau Rp10 juta, tapi puluhan/ratusan miliar bahkan hingga triliunan. Dengan duit yang lebih besar itu, manajer investasi akan mendapatkan penawaran bunga deposito lebih tinggi –daripada nasabah biasa– dari bank.

Selain itu, reksa dana pasar uang juga memiliki opsi untuk menempatkan dana ke instrumen lain seperti obligasi yang jatuh tempo kurang dari 1 tahun.

2. Setoran Awal Lebih Kecil

Dengan uang Rp 100.000 saja kamu sudah bisa berinvestasi di reksa dana pasar uang. Besaran setoran yang cukup rendah ini tentu memudahkan investor pemula yang masih ingin belajar atau investor muda seperti anak kuliah yang belum punya pendapatan stabil.

Jumlah itu lebih kecil dibandingkan dengan investor deposito. Di deposito, setoran awal ke bank biasanya minimal Rp1 juta-Rp 5 juta.

3. Dana Investasi Bisa Dicairkan Tanpa Denda

Kalau kamu berinvestasi di reksa dana pasar uang dan mendadak butuh dana segar, maka kamu bisa bebas kapanpun mencairkan dana tanpa ada denda. Ini berbeda dengan pencairan deposito sebelum jatuh tempo yang membuatmu kena denda.

Risiko Reksa Dana Pasar Uang

Selain potensi keuntungan, sama seperti sarana investasi lainnya, reksa dana pasar uang juga memiliki sejumlah risiko. Beberapa risiko investasi reksa dana pasar uang terutama terkait dengan penurunan harga reksa dana.

Meski resikonya kecil, nilai unit berpotensi menyusut karena dipengaruhi harga efek penempatan investasi (bisa obligasi atau surat berharga) yang masuk dalam portofolio reksa dana.

Risiko lainnya berkaitan dengan likuiditas. Ada kalanya, manajer investasi kesulitan menyediakan uang tunai untuk pencairan dana, apabila sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan dengan waktu yang bersamaan dan dalam jumlah besar.

Di samping itu, tidak seperti deposito atau tabungan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan, uang investor yang ditempatkan di reksa dana pasar uang tidak dijamin oleh lembaga apapun.

Sumber

Baca juga: Bank Mandiri Turunkan Suku Bunga! Operasional Nampak Membaik

Tags: