Saham BRIS masih mengalami penurunan pada penutupan terakhir pekan ini setelah sempat mengalami auto reject bawah dua kali berturut-turut. Diprediksi bahwa pergerakan ini terjadi akibat tekanan jual dari perilaku mengambil keuntungan.

Saham BRIS Turun Auto Reject Bawah

Setelah naik dari kabar merger Bank Syariah BUMN yang hampir mencapai Rp 1.700, saat ini nampaknya Saham BRIS mengalami rintangan. Rintangan ini datang dari tekanan jual oleh pemain besar yang nampaknya mengambil keuntungan akibat sentimen merger. Kabar merger tersebut telah terjadi beberapa hari yang lalu yang menyatakan bahwa rencana Bank Syariah BUMN melakukan merger akan pasti terjadi.

Kabar ini datang dan terlihat membentuk sentimen positif akibat jelasnya berita tersebut yang menyatakan beberapa rincian mengenai rencana merger. Beberapa rincian tersebut termasuk dari modal yang dimiliki serta jumlah aset dan proyeksi pangsa pasar. Selain itu, terdapat kabar proyeksi peringkat yang menyatakan bahwa hasil merger ini akan membawa Bank Syariah BUMN ke peringkat 10 besar bank di Indonesia. Kemudian dinyatakan juga rencana perubahan nama menjadi Bank Amanah dan juga bank penerima merger yaitu Bank Syariah Mandiri.

Akibat rincian tersebut, dapat dipastikan bahwa rencana merger ini akan berjalan secara pasti. Selain itu, proyeksi dari pemerintah yang menyatakan merger ini akan selesai pada Februari 2021 juga memberikan keyakinan. Sehingga, akibat keyakinan ini, nampaknya pasar menganggap kabar sebagai sentimen positif, dan membawa apresiasi sekitar 85,28% pada pekan lalu.

Penurunan Koreksi Tekanan Jual

Namun, yang disayangkan adalah, setelah mengalami apresiasi yang cukup signifikan, Saham BRIS kembali turun. Penurunan ini terjadi pada pekan ini yang juga memperlihatkan terjadinya auto reject bawah dalam dua hari berturut-turut. Penurunan ini terjadi setelah apresiasi yang cukup tinggi, dan terjadi auto reject bawah akibat Hari Rabu dan Kamis, saham ini turun 11,11% dan 7,14%.

Hari ini saham tersebut juga tertutup lebih rendah dengan candlestick yang memperlihatkan wick yang cukup panjang. Wick tersebut menyatakan bahwa harga gagal untuk naik walau terjadi apresiasi yang cukup signifikan dan tertutup lebih rendah daripada harga kemarin.

Pergerakan Harian Saham BRIS

Akibat penutupan yang rendah ini, saat ini BRIS berada di daerah yang rentan yang kemungkinan menjadi penentu. Penentu ini berada di harga Rp 1.197 yang jika berhasil dilewati kemungkinan harga akan terus turun. Namun, jika ternyata pekan depan harga naik dari daerah tersebut kemungkinan kedepannya akan terus naik.

Kemungkinan turun terlihat dari Indikator RSI yang memperlihatkan bearish divergence dan pola candlestick bearish engulfing setelah auto reject bawah Hari Rabu. Sehingga, jika ternyata benar turun, kemungkinan tujuan selanjutnya berada pada Rp 924. Jika terus turun, tujuan selanjutnya adalah pada Rp 718 dan kemudian Rp 481 sebelum ke batas terakhir pada Rp 289.

Baca juga: Matahari Bukukan Penjualan Kotor Rp 5,9 Triliun, Turun Drastis

Tetapi, kemungkinan naik juga terlihat dari pergerakan harga yang masih berada di atas daerah 61,8% dan juga potensi bullish flag pattern yang kemungkinan terjadi jika harga naik. Apa bila harga benar naik, kemungkinan pergerakan naik akan kuat dan kembali membawa BRIS ke Rp 1.397 sebelum naik ke Rp 1.548. Apa bila terus naik, kemungkinan tujuan selanjutnya berada pada Rp 1.675 yang merupakan harga tertinggi Tahun 2020.

Tags: