unsplash.com/@mayofi

Trading memang tricky dan riskan, apalagi bagi para pemula yang mulai terjun di dunia investasi. Para trader bukan hanya harus menyiapkan “uang dingin”, tapi juga mental trader, atau high risk high return. Banyak dari beberapa trader pemula yang bermodalkan ikut-ikut an tanpa paham benar bagaimana sebuah keuntungan atau profit dihasilkan. Untuk itu, simak dua indikator penting yang wajib dipahami trader sebelum memulai trading.
Bersumber dari cointelegraph.com
Berikut adalah 2 indikator utama yang harus diketahui setiap trader, khususnya di dunia kripto untuk ngawasi dengan cermat momentum aset.

Teknik Analisis

Teknik Analis, studi tentang pola grafik, adalah teknik yang membantu trader meningkatkan keunggulan mereka atas orang lain. Teknik ini dilakukan dengan menjaga di sisi kanan tren dan memberikan peringatan ketika tren akan berbalik.

Ada banyak indikator dan pola yang digunakan untuk teknik ini, tetapi tidak ada satu pun indikator khusus yang cocok untuk semua kondisi pasar. Oleh karena itu, banyak trader menggunakan indikator kombinasi , yang berguna digunakan untuk pasar trending dan range-bound. Namun, ini tidak berarti trader harus berperasangka buruk untuk setiap grafik dengan semua indikator yang tersedia.

Dalam beberapa kasus, menggunakan terlalu banyak indikator hanya akan menghambat proses pengambilan keputusan dan menciptakan kebingungan dari pada membantu trader. Saat trader mengembangkan keterampilan membaca grafik, mereka cenderung mengurangi jumlah indikator dan menggunakan indikator yang lebih sesuai dengan gaya perdagangan mereka. Di sini sekali lagi, tidak ada indikator yang sempurna yang akan memberikan hasil yang lebih baik dari yang lain, ini hanya masalah preferensi dan latihan.

Pada artikel kali ini,  Indikator yang akan dibahas adalah moving average dan relative strength index tanpa terlalu mendalami teknis setiap indikator, cara dasar untuk menggunakannya secara efektif akan disoroti. Metode yang dibahas di sini sama sekali tidak lengkap, ada banyak kemungkinan lain dan trader lain menggunakan metode yang paling sesuai untuk mereka. Penjelasan tersebut dapat digunakan sebagai pedoman untuk mengasah keterampilan menganalisis lebih lanjut.

Baca juga: USDCAD Masih Mencari Batas Atas Dengan RSI Yang Naik

Moving Averages

Moving averages adalah kegiatan mengikuti trend atau disebut juga dengan lagging indicator karena memberikan feedback yang tertunda setelah pergerakan harga sudah terjadi. Periode paling populer yang digunakan untuk trading dan investasi ini adalah rata-rata pergerakan periode 20, 50, dan 200. Trader jangka pendek atau juga shorterm trader memperhatikan pergerakan periode 5 dan 10,  tetapi mereka cenderung whipsaw dan mungkin tidak cocok untuk semua orang.

Ada empat jenis pergerakan dalam Moving Averages ini yaitu: simple, exponential, smoothed dan weighted. Tapi yang paling populer digunakan adalah simple and exponential.

 Jika dilihat, Exponential Moving Average (EMA) menggambarkan harga rata-rata dalam jangka eksponensial, atau memberikan gambaran lebih pada data harga terkini, sehingga cenderung cepat merespon perubahan harga. Namun, Simple Moving Average (SMA)  memberikan gambaran pada data harga, sehingga cenderung relatif lambat dalam merespons perubahan harga. Oleh karena itu, para trader cenderung menggunakan EMA untuk  waktu yang lebih singkat, seperti 10 dan 20 untuk memprediksi perubahan dengan cepat. Sementara, dan periode waktu yang lebih lama menggunakan Simple Moving Average (SMA) yang tidak berubah arah dengan cepat.

Untuk contoh saat ini, EMA digunakan selama 20 hari dan SMA 50 hari digunakan slama hari akan digunakan.

Relative Strength Index (RSI)

Indeks kekuatan relatif (RSI) adalah indikator momentum, yang menangkap perubahan harga dan berfungsi sebagai osilator yang berkisar antara nilai 0-100. RSI berperan sebagai parameter momentum, yakni mengukur pergerakan harga. Peningkatan momentum menandakan saham sedang dibeli secara aktif, sedangkan penurunan mengindikasikan melemahnya tren saham bersangkutan. Selain momentum, RSI juga menjadi parameter osilasi. Artinya, trader dapat mengetahui apakah kondisi pasar sudah mengalami overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual). Dalam skala 0-100, nilai aset dianggap berada dalam situasi oversold ketika kurang dari angka 21  atau bahkan 30. Sementara itu, overbought terjadi saat nilai RSI melebihi angka 70. RSI juga dapat digunakan untuk melihat divergensi, yang memperingatkan trader tentang kemungkinan pembalikan tren. Setelah dasar-dasarnya, mari kita lihat beberapa metode untuk menggunakan indikator untuk analisis. Hal pertama yang harus dipelajari trader adalah melihat tren. Berdagang searah tren bermanfaat karena tren yang mapan menawarkan beberapa perdagangan yang menguntungkan. Mari kita pahami ini dengan beberapa tindakan harga kripto.

Baca juga: Dolar Selandia Baru Tunjukan Perbaikan Posisi dari Titik Terendah

Tags: