Realisasi anggaran belanja modal (capex) PT Bukit Asam Tbk (PTBA) hingga semester pertama tahun ini adalah sekitar Rp 1 Triliun. Realisasi tersebut sama dengan 25% dari total anggaran tahun ini Rp 4 triliun yang membuat realisasi tergolong masih rendah.

Realisasi Anggaran Belanja Modal Masih Rendah

Direktur Utama Bukit Asam, Arviyan Arifin, mengatakan bahwa sebagian besar capex diserap untuk membiayai pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sumsel 8. Perkembangan pengerjaan proyek yang ditargetkan rampung pada kuartal pertama 2022, telah mencapai 65% dan ditargetkan selesai akhir tahun ini.

Beliau mengatakan, rendahnya penyerapan belanja modal hingga semester pertama 2020 dipengaruhi oleh sejumlah efisiensi yang dilaksanakan perseroan. Pandemi Covid-19 yang mengakibatkan pembatasan sosial di beberapa negara berimbas negatif terhadap permintaan batu bara, sehingga menekan kinerja keuangan pada kuartal pertama 2020. Oleh karena itu, efisiensi produksi dilakukan dalam operasional yang membuat penyerapan belanja modal berkurang.

Perseroan juga telah melakukan transformasi bisnis dengan membangun pabrik gasifikasi batu bara yang menghasilkan dimetil eter (DME). Pasokan DME nantinya adalah untuk memenuhi kebutuhan LPG, PT Pertamina yang selama ini masih dominan impor. Adapun proyek ini juga bekerja sama dengan Air Products and Chemical Inc sebagai penyedia teknologi.

Baca juga: Saham INAF Naik Bersama Saham Farmasi dan Kabar Vaksin Cina

Untuk menekan biaya logistiknya, kerja sama dengan Pelindo II dilakukan agar menjadikan angkutan sungai untuk membawa hasil produksi. Dengan kerja sama ini, diharapkan terjadi dorongan untuk penambahan kapasitas perseroan kedepannya.

Langkah lain untuk memproduksi energi terbarukan, juga telah dilakukan perseroan dengan bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II. Kerja sama ini dilakukan untuk membangun solar panel pada atap Gedung Airport Operation Control Center Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten. Pemasangan solar panel akan berlanjut pada bandara milik Angkasa Pura yang lainnya, untuk mewujudkan transformasi energi terbarukan.

Kondisi Saham PTBA

Kinerja yang semakin efisien nampaknya telah membuat Bukit Asam stabil dalam operasionalnya. Penyerapan modal yang rendah juga bisa dijadikan tanda positif bahwa perusahaan masih mengalokasikan secara baik. Oleh karena itu, stabilitas yang belum memberikan dorongan positif dan juga dorongan negatif ini, telah berdampak pada sahamnya.

Pergerakan Harian Saham PTBA

Akibat banyaknya tekanan perekonomian global, walau Bukit Asam mengalami kinerja yang baik, sahamnya menjadi stagnan. Hal ini terlihat dari konsolidasi yang masih terjadi beberapa pekan terakhir. Mengingat saham ini merupakan pemberi dividen yang besar, pertumbuhan yang perlahan merupakan hal yang wajar. Namun, nampaknya saat ini, sentimen tekanan IHSG dan pasar global yang turun masih sangat mempengaruhi saham ini.

Jika kedepannya saham ini terus turun, kemungkinan tujuan selanjutnya ada pada Rp 1.817 sebelum menyentuh Rp 1.671. Kemudian, jika terus turun, tujuan akhir kemungkinan ada pada harga terendah tahun ini pada Rp 1.491, dan masih mungkin turun.

Jika saham ini berhasil naik akibat IHSG yang membaik, target selanjutnya ada pada Rp 2.097 sebelum menyentuh antara Rp 2.182. Lalu, jika terus naik, kemungkinan target berada diantara Rp 2.504 dan Rp 2.530. Berikutnya, jika terus naik kemungkinan tujuan selanjutnya ada pada harga tertinggi tahun ini di Rp 2.865. Namun kedepannya pergerakan saham ini masih belum dapat dipastikan akibat kondisi perekonomian global yang masih berfluktuasi.

Dilansir dari Investor Daily

Tags: