Harga saham berfluktuasi, naik dan turun nilainya dalam satu hari perdagangan, terkadang dengan jumlah yang mengejutkan. Para investor pemula mungkin bertanya-tanya mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pertama, pasar saham pada dasarnya seperti sebuah pelelangan, di mana satu pihak ingin menjual kepemilikannya di perusahaan tertentu, dan pihak lain ingin membeli kepemilikan tersebut. Ketika kedua pihak menyepakati harga, perdagangan dicocokkan, dan menjadi kutipan pasar baru untuk saham tersebut. 

Pembeli dan penjual bisa berupa individu, perusahaan, institusi, pemerintah, atau perusahaan manajemen aset yang mengelola uang untuk klien swasta, reksa dana, dana indeks, atau program pensiun.

Jumlah saham yang diperdagangkan disebut “volume perdagangan“, dan ini bisa menunjukkan seberapa “panas” saham tertentu atau seberapa besar minat investor lain terhadapnya. Ini juga bisa memberi gambaran kepada para trader tentang betapa mudahnya untuk masuk atau keluar dari suatu posisi dalam saham tertentu.

Supply & Demand

Harga saham dipengaruhi oleh supply dan demand. Karena pasar saham berfungsi sebagai pelelangan, ketika ada lebih banyak pembeli daripada penjual, harga harus beradaptasi, atau tidak ada perdagangan yang akan dilakukan. Situasi ini cenderung mendorong harga naik, meningkatkan kuotasi pasar di mana investor dapat menjual sahamnya dan menarik investor lain untuk menjual ketika mereka sebelumnya tidak tertarik untuk menjual. Di sisi lain, ketika jumlah penjual melebihi pembeli, dan demand berkurang, siapa pun yang bersedia mengambil bid atau tawaran terendah akan menetapkan harga.

Baca juga: Pasar Saham Asia dan Harga Minyak Ambruk Akibat Penyebaran Omicron

Hal yang Mempengaruhi Pembeli dan Penjual

Pada hari-hari biasa, nilai saham tidak banyak bergerak. Kita biasanya akan melihat harga naik dan turun satu atau dua poin persentase, dengan ayunan yang lebih besar sesekali. Namun terkadang, bisa terjadi peristiwa yang menyebabkan saham naik atau turun dengan tajam.

Peristiwa Eksternal

Peningkatan perdagangan bisa disebabkan oleh laporan pendapatan yang menunjukkan berita keuangan yang baik atau buruk. Ini mungkin berita peristiwa keuangan besar, seperti kenaikan suku bunga, atau bahkan bencana alam, seperti badai, yang kemungkinan memiliki konsekuensi yang luas. Setiap peristiwa ini dapat memicu reaksi di pasar, menyebabkan investor terburu-buru untuk menjual atau membeli. Reaksi-reaksi ini dapat didasarkan pada emosi, atau dapat juga merupakan hasil dari keputusan yang diperhitungkan, tetapi bagaimanapun juga, mereka dapat mempengaruhi harga saham.

Analisis Investor

Gaya berinvestasi dapat sangat bervariasi dan mempengaruhi penjualan saham. Misalnya, anggaplah perusahaan tertentu menerbitkan laporan pendapatan yang buruk. Beberapa pemegang saham perusahaan tersebut mungkin panik, menjual saham mereka dan menurunkan harga karena supply melebihi demand. Di sisi lain, beberapa investor mungkin melihat berita buruk bersifat sementara dan dengan demikian melihat peluang untuk meraup saham dengan harga diskon sampai nilai saham naik lagi.

Para spekulan—mereka yang membeli dan menjual tidak berdasarkan nilai intrinsik perusahaan, tetapi pada beberapa metrik lain—dapat mendorong harga saham ke titik ekstrem. Bandingkan mereka dengan investor, yang hanya peduli untuk membeli saham dengan harga diskon dari nilainya, dengan keyakinan bahwa itu akan tumbuh nilainya dari waktu ke waktu.

Seberapa sering harga saham berubah?

Ketika banyak orang mengacu pada harga saham, mereka mengacu pada harga transaksi terakhir. Oleh karena itu, harga berubah setiap kali transaksi baru terjadi, kecuali jika transaksi tersebut untuk harga yang sama dengan yang sebelumnya. Saham besar seperti Apple diperdagangkan jutaan kali setiap hari, dan harga saham dapat berubah dengan setiap transaksi tersebut.