Pada Hari Kamis 18 Juni 2020, Bank Indonesia mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 poin di Bulan Juni. Kebijakan Moneter ini ditetapkan dengan merubah suku bunga acuan 7-day repo rate dari 4,5% menjadi 4,25%. Namun, di hari yang sama, IHSG ditutup lebih rendah dari hari sebelumnya, walaupun adanya berita ini. Fenomena ini tidak sesuai dengan Transmisi Kebijakan Moneter, sehingga, dapat di analisis apa yang sebenarnya terjadi.

Efek Pemotongan Suku Bunga Acuan

Menurut teori Transmisi Kebijakan Moneter, seharusnya, pemotongan suku bunga membuat harga aset, seperti saham naik. Hal ini disebabkan oleh penggunaan suku bunga acuan sebagai insentif untuk keputusan menabung dan investasi. Dengan turunnya suku bunga, harapannya adalah masyarakat akan terdisinsentif untuk menabung di bank, dan memilih menginvestasikan uangnya. Tujuannya adalah karena persepsi bahwa investasi akan memberikan keuntungan yang lebih dari suku bunga saat menabung.

Investasi ini dilakukan pada sektor riil melalui beberapa cara yaitu dengan pembelian aset seperti saham dan penyaluran kredit. Tujuannya adalah untuk menambah jumlah uang beredar dan menggerakkan sektor riil. Dengan bertambahnya jumlah uang beredar, akan lebih banyak asupan untuk melakukan konsumsi dan produksi, sehingga perekonomian bergerak dan meningkat. Proses ini dinamakan oleh Bank Indonesia sebagai Transmisi Kebijakan Moneter.

Transmisi Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Turunnya suku bunga acuan pada hari ini, diharapkan dapat menggerakkan perekonomian, terutama dalam masa krisis akibat Covid-19. Namun, efek dari kebijakan moneter tersebut bersifat jangka panjang. Sehingga, dampaknya tidak akan dirasakan pada hari itu juga, karena membutuhkan proses transmisi seperti yang terlihat pada bagan di atas.

Turunnya IHSG Hari Ini

Turunnya IHSG hari ini, bukanlah menjadi cerminan kegagalan dari kebijakan tersebut. Kebijakan ini membutuhkan waktu untuk berdampak, sehingga, dapat dikatakan bahwa turunnya harga penutupan IHSG hari ini tidak berkorelasi dengan kebijakan moneter ini secara langsung.

Namun, turunnya IHSG hari ini memiliki korelasi dengan turunnya suku bunga melalui persepsi investor asing. Pada hari ini, Saham BBCA tercatat turun sebesar 2,36% akibat adanya tekanan jual. Penjualan ini bisa disebabkan oleh beberapa, yang salah satunya adalah disinsentif untuk memegang saham bank. Disinsentif ini kemungkinan muncul akibat keuntungan bank yang diraih dari suku bunga, dimana semakin tinggi suku bunga maka bank akan mendapat keuntungan lebih banyak melalui kredit yang disalurkan. Faktor lain yang juga mungkin mempengaruhi penjualan ini adalah akibat ketidakstabilan dunia terhadap Covid-19.

Mengingat pangsa saham Bank Central Asia yang cukup signifikan dalam komposisi IHSG, ditambah besarnya arus modal yang keluar, turunnya IHSG sulit untuk dihindari. Namun, mengingat banyaknya saham yang merepresentasikan sektor riil, membentuk harapan untuk bangkitnya IHSG kembali.

Saham-saham ini adalah saham yang terletak pada sektor perdagangan dan jasa, barang konsumen, infrastruktur, pertanian, properti, dan konstruksi. Saham-saham pada sektor riil ini merupakan saham-saham yang dituju oleh kebijakan moneter akibat dampaknya bagi sektor riil dan perekonomian secara menyeluruh

Dalam jangka panjang, harapannya adalah sektor-sektor inilah yang akan menggerakkan IHSG untuk naik kembali sekaligus meningkatkan perekonomian secara riil akibat dari turunnya suku bunga acuan tersebut.

Baca Juga: Indeks Saham Korea Selatan Bergerak Terus, Pantang Mundur!

Perkiraan IHSG Kedepannya

Pergerakan Harian IHSG

Kedepannya, IHSG mungkin akan kembali ke zona konsolidasi. Walaupun pergerakannya yang baru keluar dari zona konsolidasi, IHSG terlihat akan kembali ke zona tersebut. Pergerakan ini dapat dilihat pola candlestick yang menunjukkan adanya pola shooting star dan evening star yang dilengkapi penutupan harga hari ini. Perkiraannya adalah bahwa IHSG akan kembali ke zona konsolidasi sembari menunggu efek dari kebijakan pemotongan suku bunga acuan. Setelah kembali ke zona tersebut, IHSG kemungkinan akan mulai bergerak ke atas, akibat dari dampak yang dirasakan berkat kebijakan moneter Bank Indonesia tersebut.

Tags: