Kurs rupiah melemah 0,57% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 15.035/US$, yang menjadi penutupan terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Tekanan bagi rupiah datang dari indeks dolar AS yang terus menanjak setelah The Fed (bank sentral AS) menegaskan akan terus menaikkan suku bunga hingga inflasi kembali ke 2%.

Bank Indonesia (BI) yang memberikan kejutan dengan menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 4,25% mampu meredam pelemahan rupiah.

Namun, di pekan ini tekanan bagi rupiah masih akan besar. Krisis mata uang yang melanda Eropa, serta isu resesi dunia di 2023 membuat dolar AS menjadi primadona.

Indeks dolar AS pada perdagangan Jumat lalu meroket hingga 1,65% ke 113,192, menjadi yang tertinggi sejak Mei 2002. Dalam sepekan, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini melesat 3,12%. Hal ini tentunya akan menekan rupiah di pekan ini, apalagi jika terus menanjak.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR terus tertekan sejak menembus ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50) kisaran Rp 14.890/US$ – Rp 14.900/US$.

Baca juga: Kurs Dolar Australia Melemah Gara-gara China?

MA 50 merupakan resisten kuat, sehingga tekanan pelemahan akan lebih besar ketika rupiah menembusnya. Rupiah kini bahkan berada di atas Rp 15.000/US$.

Resisten terdekat berada di kisaran Rp 15.050/US$, penembusan ke atas level tersebut akan membawa rupiah menuju Rp 15.090/US$ – Rp 15.100/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 50%.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Jika Fibonacci Retracement 50% tersebut ditembus dan tertahan di atasnya, rupiah berisiko terpuruk di pekan ini.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian kembali bergerak naik tetapi belum masuk wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Selama bertahan di bawah Rp 15.050/US$ rupiah berpeluang menguat ke Rp 15.000/US$. Jika ditembus, ada peluang rupiah menguat ke Rp 14.950/US$ – Rp 14.930/US$.

 

Sumber

Baca juga: Kurs Dolar Singapura Naik 5 Hari Beruntun!

Tags: