Dolar AS Tekan Rupiah dan Mata Uang di Asia

Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (14/3/2022). Padahal, sebelumnya rupiah berhasil menguat selama 3 hari beruntun sebelum terkoreksi pada akhir pekan lalu.

Eskalasi perang di Ukraina kembali menjadi sentimen negatif dan membuat pasar bergejolak.

Melansir data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.300/US$. Pada pukul 11:00 WIB, rupiah kembali melemah di Rp 14.320/US, beberapa menit kemudian rupiah terkoreksi lebih tajam 0,17%.

Indeks dolar AS sedang menguat di pasar spot, pukul 10:00 WIB terpantau penguatan sebanyak 0,11% ke 99,237.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Market (NDF) beberapa saat usai penutupan perdagangan pasar spot pekan lalu dibandingkan dengan hari ini, Senin (14/3), seperti dilansir data Refinitiv:

PeriodeKurs Jumat (11/3) Pukul 15:06 WIBKurs Senin (14/3) Pukul 11:05 WIB
1 PekanRp14.329,7Rp14.316,9
1 BulanRp14.338,0Rp14.314,0
2 BulanRp14.359,0Rp14.334,0
3 BulanRp14.383,0Rp14.357,0
6 BulanRp14.498,0Rp14.437,0
9 BulanRp14.620,0Rp14.537,0
1 TahunRp14.737,9Rp14.682,1
2 TahunRp15.330,0Rp15.139,0

Sentimen penggerak pasar pada pekan ini cukup menyita perhatian. Bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan mengumumkan kebijakan moneternya untuk menekan angka inflasi yang tinggi di AS pada Kamis (17/3) pukul 1 pagi waktu Indonesia.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga akan mengumumkan kebijakan moneter pada hari yang sama pukul 14:00 WIB.

Baca juga: Euro Turun ke Level Terendah Karena Ketegangan Ukraina Kian Memanas

Kisruh di Ukraina nyatanya masih menjadi latar belakang dari volatilitas pasar dunia karena pada akhir pekan lalu dilaporkan bahwa Rusia telah menyerang kota Lviv yang berada di Barat Ukraina. Kota Lviv berbatasan langsung dengan negara tetangganya Polandia, yang merupakan negara NATO.

Bahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah meminta NATO untuk menerapkan larangan terbang di atas langit Ukraina karena potensi serangan Rusia yang akan meluas untuk menjatuhkan rudalnya.

Sementara itu, The Fed diprediksikan akan menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak 2018, sebanyak 0,25% – 0,5% pekan ini. Investor juga akan disuguhkan proyeksi ekonomi dan inflasi oleh The Fed.

Bank Indonesia juga dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan moneternya pekan ini, beberapa jam setelah pengumuman oleh The Fed.

Namun, jika mengacu kepada Lembaga Riset Morgan Stanley, Indonesia diprediksikan akan memiliki tingkat inflasi 3,2% dan pertumbuhan ekonomi akan tetap di kisaran 5,6% secara tahunan.

Proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia turun dari 4,9% menjadi 4,4% secara tahunan. Namun, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang memiliki pelindung nilai stagflasi karena permintaan domestik yang kuat dan nilai ekspor yang baik.

“Malaysia dan Indonesia sebagai eksportir komoditas bersih akan mendapat untung dari tren kenaikan harga komoditas global,” tambahnya.

Volatilitas pasar yang tercermin dari menguatnya indeks dolar AS hari ini, investor beralih ke aset safe haven yang aman dan membuang aset berisiko. Sehingga, menekan Mata Uang Garuda.

Di Asia, mayoritas mata uang lemah terhadap dolar AS. Terpantau, Yen Jepang memimpin koreksi dengan melemah 0,45%, disusul oleh Baht Thailand dan dolar Taiwan.

 

Sumber

Baca juga: Bank Dunia dan IMF Siapkan Bantuan Dana untuk Ukraina

Tags: