Pasar ekuitas AS kembali mencatatkan kinerja positif pada hari Selasa (30/03), memperpanjang kenaikan beruntun Wall Street karena para investor dan trade memantau negosiasi gencatan senjata di Eropa Timur dan kondisi terkini di pasar obligasi.

Dow Jones Industrial Average naik 338,30 poin (0,97%) ke level 35.294,29. S&P 500 naik 1,23% menjadi 4.631,60, sedangkan Nasdaq Composite naik 1,84% menjadi 14.619,64. Kinerja positif hari ini juga memperpanjang reli indeks DJIA dan S&P 500 yang telah naik dalam empat hari beruntun.

Indeks saham utama AS telah mengalami reli dalam beberapa pekan terakhir, membalikkan sebagian besar kerugian yang terjadi setelah awal invasi Rusia ke Ukraina. Investor tampaknya mulai tenang meskipun ada kekhawatiran lain termasuk terkait inflasi, penguncian baru di China dan Federal Reserve yang telah mulai menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018.

Saham otomotif memimpin kenaikan, dengan Ford naik 6,5% dan GM naik lebih dari 4%.

Di bidang teknologi, Netflix naik lebih dari 3% dan Snap melonjak 4,5%. Saham Moderna naik 4,4% setelah regulator AS menyetujui suntikan booster vaksin Covid tambahan untuk orang berusia 50 tahun ke atas.

Investor terus mengawasi pasar obligasi, di mana imbal hasil untuk surat utang Treasury 5 tahun diperdagangkan di atas imbal hasil 30-tahun pada hari Selasa, sebuah inversi yang memicu kekhawatiran akan prospek resesi.

Selisih antara imbal hasil 2-tahun dan 10-tahun, yang dilihat para ekonom sebagai lebih memprediksi potensi resesi, juga menyempit mendekati batas inversi pada hari Selasa.

Jika pun kurva imbal hasil memprediksi resesi dengan tepat, kondisi tersebut bisa jadi baru terjadi lebih dari setahun lagi. Data historis tampaknya memberikan kepercayaan diri bagi investor.

Baca juga: Pasar Saham Asia Capai Kenaikan Terbesar Sejak 2011

Selanjutnya, tumbuhnya harapan untuk gencatan senjata Rusia-Ukraina tampaknya membantu sentimen investor pada hari Selasa. Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Fomin mengatakan Selasa bahwa negara itu akan “secara drastis” mengurangi aktivitas militer di dekat ibukota Ukraina, Kyiv.

Di pasar komoditas, minyak mentah Brent turun sekitar 2% menjadi US$ 110,23 dari US$ 123,70 yang tercatat pada awal Maret.

Harga minyak naik setelah invasi Rusia ke Ukraina. Ketika boikot Barat dan sanksi yang dikenakan pada Rusia mulai membebani pasokan di seluruh dunia. Gelombang lockdown Covid-19 di China diperkirakan akan mengurangi permintaan bahan bakar global. Yang dapat membantu mendorong harga minyak turun lebih jauh dari level tertinggi baru-baru ini.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Selasa melaporkan 11,3 juta lowongan pekerjaan di Februari. Turun sedikit dari rekor Januari dan Desember. Pengusaha sektor swasta memiliki 11,2 juta lowongan pada 18 Maret, menurut situs lowongan pekerjaan Indeed.

Di Eropa, saham pembuat mobil mendorong Stoxx Europe 600 naik 1,7% pada penutupan perdagangan kemarin. Kenaikan ini merupakan yang terbesar indeks dalam hampir dua minggu.

 

Sumber

Baca juga: Optimisme Kondisi Pasar Saham Di Indonesia