Pegerakan Bitcoin mengalami penurunan kuat hingga mencapai titik $8.892 pada Hari Senin 15 Juni Pukul 13.32 Siang Hari WIB. Tekanan jual dari Pasar Crypto Amerika menjadi penyebab dari depresiasi ini. Berdasarkan harga sebelumnya, dengan adanya penurunan yang drastis, koreksi bulanan dapat menjadi tahap selanjutnya untuk BTC/USD

Tanda-Tanda Pergerakan Kebawah

Sejak Oktober 2019, $10.500 adalah garis batas atas untuk BTC/USD. Setiap pergerakan ke atas yang mencoba melewati batas tersebut selalu gagal dan diikuti oleh pergerakan ke bawah yang kuat. Pada Bulan Oktober 2019, kegagalan Bitcoin untuk melewati batas tersebut berujung pada koreksi selama 36 hari, setelah harga jatuh ke $6.400. Pada Bulan Februari 2020, BTC/USD turun ke $3.600 dalam jangka waktu 1 Bulan. Sekarang, setelah upaya ketiga untuk menembus batas atas $10.500, Bitcoin berada dalam risiko untuk mengalami formasi “Triple Top” pertanda umum datangnya pergerakan ke bawah.

Dalam wawancara Forbes dengan Michael van de Poppe, Seorang trader pada Amsterdam Stock Exchange, membuat prediksi bahwa pergerakan ke bawah dari Bitcoin dapat mendorong harga ke titik $6.000-$7.600. Namun, tekanan ke bawah akan sangat bergantung pada apakah Bitcoin dapat menjaga batas bawahnya pada $8.600. Untuk mengembalikan pergerakan ke atas, Bitcoin harus menjaga kembali harga pada $9.300.

 

Baca Juga: Simak 5 Cryptocurrency yang Patut Diamati Pekan Ini!

Faktor Eksternal Bitcoin

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin adalah hubungannya dengan Pasar Modal Amerika. Sejak awal April, pergerakan Bitcoin hampir mencerminkan pergerakan S&P 500. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa beberapa risiko Geo-politik dalam perekonomian global mempengaruhi keputusan investor untuk berinvestasi dengan kewaspadaan lebih.

Holger Zschaepitz, Analis Pasar pada Welt, menyatakan bahwa Pasar Global minggu ini dimulai dengan indikasi kekhawatiran dari investor akibat adanya potensi gelombang kedua COVID-19. Pasar berjangka Amerika, Eropa, mulai bergerak ke bawah, sejalan dengan beberapa pasar modal Asia. Lebih dari 20 negara bagian di Amerika mengalami peningkatan kasus COVID-19. Tokyo juga mengalami peningkatan bersama dengan Beijing yang mengalami gelombang kedua dari virus ini. Pada saat yang bersamaan dengan turunnya Bitcoin ke $8.892, Emas mencapai titik $1.721,024, Minyak Brent mencapai titik 37,47, dan Surat Utang 10 Tahun Amerika turun ke 0,66% dalam Yieldnya.

Walau Bitcoin dianggap sebagai aset yang tidak terikat pada apa pun, ada beberapa aspek di pasar ini yang mempengaruhi pergerakan harga. Contohnya, Tether, yang merupakan porsi terbesar dari volume Bitcoin. Investor dari Cina, umumnya membeli Bitcoin melalui Tether untuk menghindari regulasi yang ketat. Data menunjukkan bahwa mayoritas pembelian Tether datang dari Cina pada 2019.

Turunnya ekonomi secara global, dan naiknya konflik antara beberapa pemegang jabatan, dapat mempengaruhi ketidakpastian pada pasar Mata Uang Crypto pada jangka pendek.

Dilansir dari: Forbes