MYOR berhasil raih laba hingga Rp 1,56 Triliun walau masih tertekan kinerjanya akibat terhambat kondisi perekonomian yang terdampak Covid-19. Pencapaian laba ini adalah suatu sentimen positif terhadap perusahaan akibat kesulitannya untuk maju dalam kondisi perekonomian di Tahun 2020.

MYOR Berhasil Raih Laba

Walaupun kinerja PT Mayora Indah Tbk (MYOR) masih tertekan hingga kuartal ketiga 2020  dikabarkan bahwa perusahaan masih mencatat laba yang signifikan. Hingga kuartal ketiga 2020, penjualan bersih MYOR turun tipis sekitar 2,11% secara tahunan. Tercatat bahwa hingga kuartal ketiga 2020 ini, MYOR membukukan penjualan bersih Rp 17,58 Triliun. Angka ini merupakan penurunan dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 17,96 Triliun.

Walaupun mengalami penurunan penjualan bersih, penjualan lokal MYOR hingga kuartal ketiga 2020 meningkat 5,55% secara tahunan menjadi Rp 10,46 Triliun. Tetapi, peningkatan ini tidak mengimbangi penjualan ekspor yang tertekan hingga 11,53% secara tahunan. Penjualan ekspor MYOR turun dari Rp 8,06 Triliun menjadi Rp 7,13 Triliun. Walaupun penjualan MYOR masih tertekan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mampu tumbuh signifikan hingga 41,81% secara tahunan.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2020 MYOR mencatatkan laba hingga Rp 1,56 Triliun yang merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan bottom line MYOR terdorong laba selisih kurs mata uang asing-bersih yang mencapai Rp 303,94 miliar. Di samping itu, beban-beban MYOR terlihat menipis dibandingkan periode tahun lalu. Selain itu, hingga kuartal ketiga 2020, asetnya turun tipis menjadi Rp 19 Triliun dari sebelumnya Rp 19,04 Triliun.

Kondisi Keuangan Belum Berdampak ke Saham

Selain itu, jumlah liabilitasnya menurun 10,3% menjadi Rp 8,19 Triliun dari Rp 9,13 Triliun akhir tahun lalu. Ekuitasnya terlihat meningkat menjadi Rp 10,81 triliun dari sebelumnya Rp 9,91 triliun. Sehingga secara keseluruhan, kondisi keuangan nampaknya masih terlihat baik, untuk kuartal ketiga walau pemasukan masih turun. Sayangnya, kondisi keuangan ini masih belum berpengaruh terhadap pergerakan harga saham MYOR, akibat depresiasinya hari ini.

Pergerakan Harian MYOR

Sentimen laba yang belum tercermin pada harga saham, terlihat dari pergerakan harga yang turun dan mulai keluar dari pergerakan naik sejak April 2020. Hari ini, saham MYOR mulai turun setelah kemarin memperlihatkan pola candlestick bearish engulfing. Sehingga, bersama dengan Indikator RSI yang turun dari zona netral, kemungkinan pergerakan harga saham akan terus turun.

Baca juga: Setelah Rugi Tahun Lalu, PALM Cetak Laba Rp 236,55 Milyar

Untuk saat ini, kemungkinan tujuan selanjutnya jika turun, berada di Rp 2.229 dan jika dilalui dapat menuju ke Rp 2.074. Kemudian jika terus turun, terdapat kemungkinan tujuan berada di Rp 1.879 sebelum turun ke Rp 1.751, dan terburuk kemungkinan turun kembali ke harga terendah 2020 pada Rp 1.406. Tetapi, jika kembali naik ke zona pergerakan naik, kemungkinan target selanjutnya berada pada Rp 2.366 sebelum naik ke Rp 2.468 dan kemudian mencapai Rp 2.596 sebelum terus naik ke atas. Namun, nampaknya hal ini belum akan terjadi dalam waktu dekat akibat IHSG yang juga sedang tertekan.

Dilansir dari IPOTNEWS

Tags: