Saham-saham Asia Pasifik beranjak menguat pada Kamis (29/07) pagi setelah China mengambil tindakan untuk menenangkan gejolak pasar yang terjadi baru-baru ini, sementara Federal Reserve AS mengatakan lebih banyak kemajuan ekonomi diperlukan sebelum memulai pengurangan aset (tapering).

Nikkei 225 Jepang menguat 0,64% di 27.759,50 pukul 10.42 WIB menurut data Investing.com dan KOSPI Korea Selatan naik tipis 0,01% di 3.237,25.

Di Australia, ASX 200 naik 0,37% ke 7.406,90. Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan akan menunda pengurangan aset yang direncanakan saat mengumumkan keputusan kebijakannya minggu depan. Penundaan itu terjadi hanya empat minggu setelah rencana tersebut diumumkan dan aturan lockdown yang diperpanjang di Sydney juga diperkirakan akan berdampak pada perekonomian.

RBA saat ini berencana untuk memulai pengurangan aset (tapering) pada bulan September dan tinjauan menyusul beberapa bulan kemudian.

Baca juga: Saham Asia Pasifik Sebagian Besar Naik Hari Ini!

Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat 0,51% ke 6.119,34 sampai pukul 11.00 WIB.

Indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 2,78% di 26.127,00 pukul 10.50 WIB. Shanghai Composite China menguat 1,04% di 3.396,56 dan Shenzhen Component melonjak 2,31% ke 14.411,63. Investor terus menunggu dampak dari seruan yang dilaporkan dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC) Fang Xingha dan eksekutif di bank investasi besar.

Yang dilakukan dengan tergesa-gesa adalah upaya CSRC, regulator sekuritas China, untuk menenangkan aksi jual beberapa hari di saham China dan Hong Kong yang dipicu oleh tindakan keras peraturan pada beberapa sektor, termasuk pendidikan swasta.

“Pesannya adalah bahwa keuntungan tidak menjadi kata kotor dalam sistem China dari ‘Sosialisme dengan karakteristik China’, hanya di sektor-sektor tertentu… masih harus dilihat,” kata kepala strategi FX NAB Ray Attrill kepada Reuters.

Di AS, The Fed mempertahankan suku bunga dalam kisaran target antara 0% dan 0,25% saat mengumumkan keputusan kebijakannya pada hari Rabu. Meskipun para pejabat membahas bagaimana memulai pengurangan aset (tapering), namun tidak ada rincian waktu jelas yang dijelaskan. Bagaimanapun, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa masih perlu beberapa waktu sebelum kondisi pengurangan aset terpenuhi. Bank sentral AS ini juga menegaskan bahwa inflasi kemungkinan bersifat sementara dan terkait dengan pembukaan kembali ekonomi dari COVID-19.

Namun, penyebaran kasus COVID-19 yang melibatkan strain Delta secara global dan efek riak dari tindakan keras China, tetap menjadi risiko.

“Kala ekonomi tampaknya beranjak lebih dekat, The Fed belum melihat data yang cukup besar untuk menjamin perubahan kebijakan yang lebih berarti … sebagai hasilnya, kami memperkirakan pasar akan tetap bergejolak dalam waktu dekat, sebagian besar didorong oleh musim pengumuman pendapatan perusahaan yang tersisa, laporan data ekonomi utama yang akan datang, dan laju kemajuan untuk mengurangi pandemi global”, CEO AXS Investments LLC Greg Bassuk mengatakan kepada Bloomberg.

Sementara itu, data PDB kuartal II AS akan dirilis nanti. Sekelompok senator bipartisan dan Gedung Putih juga mencapai kesepakatan tentatif mengenai paket infrastruktur senilai $550 miliar, yang merupakan bagian dari agenda ekonomi Presiden AS Joe Biden.

Baca juga: Saham Asia Pasifik Alami Penurunan

Tags: