Ketika bursa saham di seluruh dunia terus mengalami kerugian besar, para trader Bitcoin (BTC) sedang berjuang mempertahankan harga aset di 7,800 USD. Pada 11 Maret malam, Dow mengalami penurunan lebih dari 1.400 poin dan indeks S&P 500 mengalami kerugian sebesar 4,89%. Hal itu disebabkan karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan bahwa virus corona diklasifikasikan sebagai pandemi. 

Diikuti dengan kabar yang tidak menyenangkan dari kongres A.S, Dr. Anthony S. Fauci, Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases menyatakan jumlah pasien yang terinfeksi virus COVID-19 akan terus berkembang karena tidak adanya langkah cepat dalam penanganan dan penelusuran penyakit tersebut. 

Mengingat adanya korelasi jelas antara pergerakan harga Bitcoin dan market tradisional, trader kontributor Cointelegraph, Micheal van de Poppe mengharapkan ke depannya bitcoin bisa bertahan di zona 7.600 USD sampai 7.300 USD sampai pasar global menunjukkan peningkatan yang berkelanjutan.

Jika Bitcoin gagal memegang 7.300 USD, ia percaya, para trader akan mengalihkan fokus mereka ke 6.800 USD dan 6.400 USD (penurunan harga).

Grafik harian BTC menunjukkan 7.420 USD berada di level pendukung utama Bitcoin. Indeks kekuatan relatif diambil dari wilayah jual yang paling besar dan dari jangka waktu yang lebih singkat. Bisa terlihat dari pergerakan rata-rata konvergensi divergensi (MACD) dan indeks kekuatan relatif (RSI) naik secara berlebihan.  Tapi ini membuktikan jika para trader enggan membeli saat Bitcoin terus turun di harga rendah. 

Seperti disebutkan dalam analisis sebelumnya, lonjakan tinggi pada volume bisa mendorong harga menjadi 8.500 USD – 8.600 USD karena ada kesenjangan besar pada kisaran volume. Peralihan positif terjadi ketika Bitcoin terus mengalami kenaikan sekitar 7.800 USD atau harga naik kembali di atas 61,8% Fibonacci retracement level (7.978 USD) dan bertahan di atas 8.100 USD.

Baca juga: 3 Alasan Utama Harga Bitcoin Bisa Mendekati $10.000

Adanya Kekhawatiran dari Para Investor

Indeks Crypto Fear & Greed masih bertahan di kisaran 17—level yang mewakili ketakutan ekstrim dari beberapa investor. Dahulu, para investor telah menggunakan angka sentimen sebagai sinyal untuk mengimbangi trend tersebut. Meskipun kemungkinan besar investor merasa tergoda untuk menjual aset mereka, ketidakpastian yang ditimbulkan oleh epidemi virus corona telah menciptakan sesuatu peristiwa black swam (keadaan yang terjadi di luar dugaan dan menimbulkan kegemparan di pasar finansial) yang menekan keinginan investor akan risiko. 

Kekhawatiran lainnya dalam benak para investor adalah fakta bahwa Bitcoin mendekat dengan cepat dalam dukungan logaritma trendline. Hal ini sedikit terlalu dini untuk berspekulasi apakah ada efek jika mengalami penurunan di bawah pada perkembangan logaritma trendline. Namun, perlu dicatat bahwa kejadian tersebut belum terjadi sejak munculnya Bitcoin.

Tidak lama setelah bursa saham ditutup, trader Philip Swift memposting grafik di atas dan men-tweet: 

“Harga Bitcoin hanya sebentar menembus lebih rendah pada kurva pertumbuhan log, di hari ketika ada banyaknya ketakutan di market. ‘larangan bitcoin Cina’. Hanya saja tidak ada pemotongan harga saat itu. Sekarang mari kita lihat apakah bitcoin dapat bertahan.”

Sumber