Dolar Amerika Serikat bergerak turun pada Kamis (30/09) pagi di Asia, tetapi mendekati level tertinggi satu tahun dan Federal Reserve AS bersiap untuk memulai pengurangan aset pada November 2021.

Indeks Dolar AS turun tipis 0,07% di 94,287 pada pukul 11.16 WIB menurut data Investing.com. Indeks mencapai angka 94.435 pada hari Rabu, pertama kali sejak September 2020.

Pasangan USD/JPY sedikit melemah 0,03% di 111,93.

Pasangan AUD/USD menguat 0,41% ke 0,7204 dan NZD/USD naik 0,16% ke 0,6881.

Di Indonesia, rupiah kembali beranjak melemah 0,20% di 14.318,5 per dolar AS hingga pukul 11.20 WIB.

Pasangan USD/CNY turun tipis 0,02% di 6,4688 pukul 11.21 WIB. Data ekonomi China yang dirilis sebelumnya menunjukkan indeks manajer pembelian (PMI) September manufaktur berada di 49,6. PMI non-manufaktur dan PMI manufaktur Caixin masing-masing berada di 53,2 dan 50.

Pasangan GBP/USD menguat 0,24% di 1,3455. Namun, kekhawatiran tetap ada mengenai melonjaknya harga gas alam di samping situasi kekurangan bensin di Inggris yang telah berlangsung hampir seminggu.

Dolar safe haven mendapat dukungan atas kekhawatiran bahwa Fed dapat mulai mengurangi pembelian aset dalam periode pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan inflasi yang terus-menerus tinggi. Dolar juga mendapat dorongan karena kebuntuan atas plafon utang AS yang mengancam untuk menutup operasional pemerintah yang terus berlanjut.

Senat AS dari Partai Republik memblokir upaya Demokrat untuk mencegah gagal bayar utang AS yang berpotensi melumpuhkan pemerintahan karena pendanaan federal berakhir pada hari Kamis dan untuk otoritas pinjaman sekitar tanggal 18 Oktober.

“Raja dolar AS ada di rumah, tidak masalah mata uangnya, beli saja dolar sudah menjadi getarannya,” ujar Kepala Riset Pepperstone Chris Weston dalam catatan.

“Kami terus memantau sisi kiri dan kanan teori ‘senyum’ dolar AS [yang mengatakan bahwa dolar bekerja dengan baik di saat-saat baik atau buruk bagi ekonomi AS, tetapi tidak di antaranya] bekerja dengan sungguh-sungguh,” di tengah meningkatnya “kekhawatiran stagflasi” dan The Fed menegaskan mereka akan memulai pengurangan aset pada November 2021 dan investor memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember 2022, tambah catatan itu.

Ketua Fed Jerome Powell dan Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde berbicara dalam forum ECB pada hari Rabu bersama Gubernur Bank of England dan Bank of Japan Andrew Bailey dan Haruhiko Kuroda. Kepala bank sentral mengatakan bahwa mereka mengawasi inflasi, tetapi optimis fenomena tersebut akan bersifat sementara.

Baca juga: Ketertarikan Akan Risiko Meningkat, Dolar AS Terpantau Melemah

Tags: