Rupiah bangkit pada perdagangan Selasa (26/4/2022) setelah terpuruk melawan dolar Amerika Serikat (AS) kemarin. Meski demikian, rupiah terlihat masih sulit untuk menguat tajam, sebab dolar AS sedang kuat-kuatnya.

Melansir data Refinitiv, begitu perdagangan dibuka rupiah langsung menguat 0,14% ke Rp 14.435/US$. Apresiasi rupiah kemudian terpangkas, berada di Rp 14.440/US$ atau menguat 0,1% pada pukul 9:07 WIB.

Rupiah memang sudah terlihat akan menguat pagi ini, kurs non-deliverable forward (NDF) yang lebih kuat pagi ketimbang beberapa saat setelah penutupan perdagangan kemarin.

Greenback masih terus melaju kencang. Indeks dolar AS kembali naik 0,5% ke 101,736 yang merupakan level tertinggi sejak Maret 2020 lalu. Hal ini tentunya bisa membatasi penguaran rupiah.

Ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga yang sangat agresif terus membuat indeks dolar AS menanjak.

Pasar melihat The Fed bulan depan akan menaikkan suku bunga 50 basis poin, bahkan di bulan Juni diperkirakan lebih tinggi lagi. Hal tersebut terlihat di perangkat FedWatch milik CME Group, di mana ada probabilitas sebesar 75% The Fed akan menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 1,5% – 1,75% di bulan Juni.

Di sisi lain, agresifnya The Fed menaikkan suku bunga memunculkan risiko pelambatan ekonomi di Amerika Serikat.

Baca juga: Kenaikan Suku Bunga Menakutkan Bagi Investor, Kenapa ya?

Sementara di China, risiko pelambatan ekonomi terjadi akibat lonjakan kasus Covid-19.

China sudah melakukan karantina (lockdown) di beberapa wilayah, termasuk ibukota Shanghai. Tetapi nyatanya kasus Covid-19 malah terus bertambah.

Alhasil, muncul kecemasan akan terjadinya lockdown secara nasional. Ibu kota Beijing bahkan dilanda panic buying.

Mengutip Channel News Asia (CNA) yang mengutip kantor berita AFP, antrean dan penumpukan warga mulai terlihat di beberapa supermarket pada Minggu, (24/4/2022) dan Senin. Selain di supermarket, ditemukan juga banyak barang terjual habis di aplikasi pengiriman bahan makanan.

Jika benar China melalukan lockdown nasional maka perekonomian bisa dipastikan akan melambat.

Amerika Serikat dan China, dua raksasa ekonomi dunia terancam mengalami pelambatan ekonomi, pelaku pasar kembali masuk ke obligasi yang merupakan aset aman (safe haven).

Yield obligasi AS (Treasury) pun menurun, tenor 10 tahun pada perdagangan Senin turun 8,66 basis poin.

Penurunan tersebut tentunya bisa meredakan tekanan yang dialami Surat Berharga Negara (SBN) dalam beberapa pekan terakhir. Ada peluang aliran modal asing kembali masuk ke dalam negeri yang bisa membuat SBN menguat.

Rupiah juga akan mendapat tenaga untuk menghadapi dolar AS jika terjadi capital inflow di pasar obligasi.

 

Sumber

Baca juga:

Tags: