PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) akan menggelar rights issue tahun ini untuk memenuhi free float. Free float sendiri adalah peraturan dari Bursa Efek Indonesia yaitu jumlah saham yang dimiliki publik yang harus sebesar 7,5%.

Rencana Rights Issue Saham BSI

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, bank syariah terbesar di tanah air dengan kode saham BRIS tersebut akan rights issue. Target dananya adalah hingga $500 juta atau sekitar Rp7,2 triliun. Ia mengatakan bahwa rights issue BSI ini adalah bagian dari cara memenuhi aturan free float dan untuk menemukan investor strategis.

Komposisi pemegang saham BSI saat ini adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 50,95%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) 24,91%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 17,29%; DPLK BRI 1,83%, dan BNI Life Insurance 0,01%. Sedangkan kepemilikan publik hanya 5,01%.

Bank hasil penggabungan tiga bank syariah Himpunan Bank Negara ini, Bank Syariah Indonesia memiliki aset terbesar ke tujuh di Indonesia. Total asetnya mencapai sebesar Rp240 triliun dan total pembiayaan Bank BSI sampai Desember 2020 telah mencapai Rp157 triliun dengan total DPK Rp210 triliun.

Dari sisi jaringan, Bank Syariah Indonesia didukung oleh lebih dari 1.300 jaringan kantor. Selain itu, BSI juga memiliki sekitar 2.400 jaringan ATM, serta lebih dari 20.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kapitalisasi Pasar Terus Naik

Nilai kapitalisasi pasar BRIS telah mencapai Rp105,45 triliun. Meski kapitalisasi pasar BRIS melesat tinggi dalam setahun, angka tersebut masih kalah jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang mencapai Rp118 triliun.

Nilai kapitalisasi pasar ARTO melonjak seiring lonjakan harga sahamnya beberapa waktu terakhir. Sehingga saat ini Bank Jago memiliki kedudukan sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kesepuluh di BEI.

Baca juga: Saham BABP Rincikan Rencana Bisnis, Fokus Kepada Nasabah

Namun, dengan adanya rencana baru ini, kemungkinan besar semuanya akan berubah dan Saham BRIS akan naik. Hal ini disebabkan akan bertambahnya jumlah saham yang beredar yang kemungkinan mendorong apresiasi dalam minat memegang saham.

Tapi, semua baru dapat dipastikan setelah rights issue ini telah terjadi. Namun dengan banyaknya sentimen positif dan dorongan pemerintah, kemungkinan menjadi lebih besar.

Dilansir dari Investasi Kontan

 

Tags: