Pada Bulan Januari 2021 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berhasil mencatatkan penjualan semen lebih dari 1,3 juta ton.

Menurut Sekretaris Perusahaan INTP, Antonius Marcos realisasi itu sama dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu dan lebih tinggi dari rata-rata penjualan industri.

Penjualan Indocement Naik

Secara bulanan, penjualan Indocement lebih baik dari industri atau turun sebesar 12%. Kontraksi penjualan dari INTP terjadi lebih karena faktor cuaca yang tinggi pada awal tahun.

Selain itu, Marcos menerangkan siklus awal tahun biasanya relatif cenderung menurun dalam pembeli karena hari libur untuk masyarakat.

Menurutnya kondisi ini tidak akan bertahan lama akibat akan terjadi peningkatan dalam beberapa bulan ke depannya, melihat pergerakan sebelumnya.

Adapun, data Asosiasi Semen Indonesia menunjukkan konsumsi semen pada Januari 2021 mencapai 4,9 juta ton. Angka tersebut menunjukkan koreksi sebesar 5,8% dibandingkan bulan pertama tahun lalu yang sebesar 5,20 juta ton.

Sementara itu, secara bulanan penjualan semen se-Indonesia pada bulan lalu turun 14,5% dari Desember 2020 sebesar 5,73 juta ton. Sebelumnya, Indocement menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 4% pada tahun ini.

Target Pertumbuhan 4%

Dengan realisasi penjualan perseroan sepanjang 2020 sebesar 16,5 juta ton, kenaikan 4% akan membawa volume penjualan menjadi 17,16 juta ton. Indocement menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 4% pada tahun ini.

Namun, target pertumbuhan tahun ini lebih baik dibandingkan kontraksi 8% pada 2020. Selain itu, target tersebut masih di bawah realisasi penjualan pada 2018 sebesar 18,1 juta ton.

Sebagai informasi melansir Bisnis, Indocement membukukan penurunan laba bersih yang mulai terbatas pada akhir kuartal ketiga Tahun 2020. Laporan keuangan 30 September 2020 melaporkan laba bersih periode berjalan yang dapat disebarkan kepada pemilik entitas induk senilai Rp1,11 triliun.

Baca juga: Saham BBYB dan YELO Diberhentikan BEI Akibat Apresiasi Harga

Angka tersebut merupakan penurunan sekitar 5,02% secara tahunan dari posisi sebelumnya Rp1,17 triliun. Penurunan itu terbilang membaik dibandingkan koreksi laba pada paruh pertama tahun ini yang sebesar 26,5%.

Untuk saat ini, INTP masih terus bergerak turun sejak pertengahan Januari 2021 akibat masih belum kuatnya sentimen positif. Selain itu, kondisi IHSG dan perekonomian juga masih berdampak terhadap penjualan saham ini.

Namun secara garis besar, saham masih relatif bergerak berkonsolidasi walau telah keluar dari zona tersebut tapi masih memiliki potensi naik kembali.

Tags: