Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kuartal ketiga negatif. Publikasi data ini membuat Indonesia resmi memasuki jurang resesi.

Indonesia Resmi Resesi!

Publikasi data dari BPS menyatakan bahwa Indonesia resmi resesi pada hari ini sekitar pukul 11.00 WIB. Data ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kuartal ketiga tumbuh negatif sebesar -3,49%.

Angka ini merupakan angka terendah sejak masa 1998, dimana pada 1998, angka terendahnya mencapai -13,1%. Akibatnya saat ini, pertumbuhan secara tahunan terlihat sangat buruk yang memunculkan beberapa kekhawatiran di masyarakat.

Namun, kabar baiknya adalah pertumbuhan pada kuartal ketiga memperlihatkan pemulihan dari kuartal sebelumnya. Angka ini terlihat dari pertumbuhan secara kuartalan pada kuartal ketiga yang menunjukkan angka 5,05%.

Walaupun angka ini lebih rendah dari prediksi pasar yang diperkirakan mencapai 5,34%, angka ini masih lebih baik dari kuartal kedua yang tumbuh negatif sekitar -4,19%. Sehingga ada kemungkinan bahwa kuartal ketiga adalah awal mula dari pemulihan ekonomi, walau masih tertekan.

Tekanan ini terjadi akibat dari pandemi Covid-19 yang membuat terhambatnya kegiatan perekonomian di Indonesia. Resesi yang terjadi saat ini terlihat berbeda dibandingkan resesi sebelumnya yaitu pada 1998 di Indonesia dan 2008 di Amerika.

Hal ini disebabkan oleh resesi saat ini yang bukan terjadi akibat kondisi politik atau akibat risiko sistemik pasar keuangan. Namun, resesi saat ini terjadi akibat wabah yang membatasi pergerakan.

Dampak Terhadap Rupiah

Secara teori, selain perang, wabah yang terjadi saat ini adalah salah satu penyebab kemunduran dalam perekonomian. Hal ini disebabkan terjadi tekanan pada permintaan dan penawaran agregat jangka pendek yang membuat penawaran jangka panjang mundur.

Sehingga terjadi titik keseimbangan dengan perekonomian baru yang menghasilkan kondisi perekonomian yang menurun. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa resesi ini memang akan terjadi.

Namun, kabar baiknya adalah, secara kuartalan, data mulai memperlihatkan pemulihan ekonomi. Sehingga, data ini dapat menjadi pertanda untuk masuk ke dalam pasar keuangan seperti saham. Hal ini disebabkan saat ini harga sedang rendah akibat dampak resesi dan di depan terdapat potensi pemulihan.

Baca juga: Eropa Lockdown dan Suku Bunga Acuan Inggris, EURGBP akan Turun?

Namun, untuk rupiah sendiri kemungkinan polanya akan berbeda. Hal ini disebabkan adanya potensi depresiasi karena sentimen negatif dari resesi.

Kemungkinan besar, akibat resesi, mayoritas investor luar akan khawatir dan keluar dari Indonesia sehingga tekanan jual terhadap Rupiah kemungkinan akan kuat. Jika hal itu terjadi, maka nilai Rupiah diprediksi akan tergerus.

Sehingga, sentimen ini dapat terus mendorong Rupiah turun akibat juga menurunnya perekonomian secara internal. Namun, ada juga potensi bahwa tekanan beli di pasar keuangan akan mendorong Rupiah naik. Hal ini disebabkan munculnya kepercayaan dan konfirmasi pemulihan pada data kuartal berikutnya.

Tags: