Indocement menyatakan bahwa mereka yakin akan penjualan semen akan naik setelah mengalami penurunan di awal tahun 2020. Pernyataan ini dibuat oleh Antonius Marcos Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

Indocement Positif Penjualan Naik

Sejak awal Tahun 2020 hingga paruh pertama, dikabarkan bahwa penjualan semen hanya mencapai 7,2 Juta Ton. Angka ini merupakan penurunan sebesar 8% dari penjualan paruh pertama tahun lalu. Diperkirakan penjualan yang turun ini disebabkan oleh banyaknya tragedi di luar kendali seperti banjir di awal tahun dan Covid-19.

Antonius Marcos menyatakan bahwa penurunan dalam penjualan terjadi di luar kuasa Indocement akibat beberapa faktor eksternal. Sehingga asumsi dari pernyataan beliau adalah, jika faktor eksternal tersebut tidak ada, penjualan terhadap semen akan kembali naik.

Kepercayaan akan penjualan semen yang akan kembali naik, tumbuh dengan satu alasan. Alasan ini adalah dengan mulai pulihnya perekonomian global dari Covid-19, Indonesia juga akan mulai pulih. Dengan mulai pulihnya perekonomian Indonesia, beliau yakin bahwa penjualan terhadap semen akan kembali naik.

Sehingga, dengan naiknya adanya pernyataan positif dari pihak perusahaan, Saham INTP akan memiliki sentimen positif. Sentimen positif ini akan muncul dari harapan yang diberikan dari pernyataan Antonius Marcos.

Baca juga: IHSG Kalah Saing dengan Bursa ASEAN Lain Saat Pandemi

Pergerakan INTP

Sejak awal Tahun 2020, saham INTP telah mengalami penurunan sebesar kurang lebih 52% hingga akhir Bulan Maret. Setelah Bulan Maret, saham ini terlihat masih terjebak dalam pergerakan konsolidasi diantara harga sekitar Rp 12.400 dan Rp10.500 hingga sekarang. Namun, pada pekan ini, Saham INTP sudah mengalami peningkatan sebesar 5% walau masih terjebak di pergerakan konsolidasi.

Dengan adanya kabar proyeksi penjualan semen yang positif, dan penutupan yang naik di pekan ini, nampaknya pergerakan akan terus naik. Sentimen-sentimen positif yang ada untuk saham ini kemungkinan dapat mendorong pergerakan saham ini naik hingga ke harga sekitar Rp14.000.

Namun, melihat IHSG yang ditutup lebih rendah saat ini, nampaknya pergerakan masih belum terlihat jelas akan naik. Hal ini disebabkan juga oleh banyaknya konflik yang mulai tumbuh di Laut Cina Selatan yang dapat berpengaruh juga ke Indonesia. Konflik ini menjadi risiko Geo-politik yang dapat menggoyahkan kepercayaan investor pada pasar modal Indonesia. Sehingga ada kemungkinan mayoritas saham akan turun kembali, termasuk INTP akibat likuiditasnya.

Tags: