Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi parah pada perdagangan hari Senin (12/4/21). Tercatat indeks acuan bursa lokal ambruk hingga 2%.

IHSG Turun, Investor Ritel Ganti Aset

IHSG memang sedang lesu akhir-akhir ini. Tercatat dalam lima pekan terakhir, IHSG hanya mampu menguat satu pekan. Bahkan IHSG sudah terkoreksi parah dari level 6.350 hingga saat ini ambruk ke bawah 5.950 atau koreksi sebesar 400 indeks poin.

Menariknya selain IHSG yang terus terkoreksi, nilai transaksi di bursa lokal juga terus menyusut hingga ke rata-rata Rp 8-9 triliun per hari. Angka ini tentu saja jauh di bawah rata-rata perdagangan Januari 2020 ataupun pada kuartal ketiga tahun 2020 dimana dalam sehari IHSG bisa mencatatkan transaksi mencapai Rp 25 triliun.

Pada periode tersebut memang IHSG sedang gencar-gencarnya naik sehingga investor ritel sangat aktif bertransaksi di bursa. Tercatat pada bulan 10,11, dan 12 IHSG mencatatkan apresiasi masing-masing 5,30%, 9,44%, dan 6,53% yang berhasil mengangkat IHSG dari level 5.238 ke angka 5.979.

Kenaikan berlanjut hingga pertengahan bulan Januari dimana IHSG sempat melesat 8,80% ke level 6.500 sebelum akhirnya IHSG ambruk dimana selain saham-saham bluechip yang terkoreksi parah ada pula saham-saham farmasi yang tumbang menyentuh level ARB selama berhari-hari.

Tumbangnya saham-saham farmasi tersebut menyebabkan banyak korban investor ritel terutama investor ritel angkatan corona yang terpaksa merugi parah karena melakukan pembelian saham farmasi di harga atas dan tentu banyak investor yang ‘kapok’ sehingga melarikan dananya dari pasar modal.

Sejak saat itu nilai transaksi IHSG tak lagi sama, secara perlahan nilai transaksi saham menyusut hingga ke level saat ini dimana IHSG ditransaksikan tidak lebih dari Rp 10 triliun per hari.

Lari ke Crypto?

Tentunya yang menjadi pertanyaan, ke mana larinya dana para investor ritel tersebut? Salah satu kemungkinannya adalah para ritel melarikan uang mereka ke aset crypto. Hal ini wajar mengingat saat IHSG jatuh pada bulan terakhir kuartal pertama tahun 2021, mata uang kripto malah terapresiasi kencang.

Tercatat Bitcoin berhasil terbang kencang dimana pada bulan pertama, kedua, dan ketiga tahun 2021 ini Bitcoin berhasil terapresiasi. Masing-masing apresiasi yang terjadi adalah sebesar 14,54%, 36,69%, dan 29,79%.

Selanjutnya mata uang kripto Ethereum dengan kapitalisasi pasar kedua terbesar di pasar juga melesat kencang sebesar 78,43%, 8,02%, dan 35,26%, selama bulan pertama kedua dan ketiga.

Baca juga: Kraken Ikuti Coinbase Melantai di Bursa Saham Amerika

Terakhir mata uang kripto yang tersangkut miliarder dunia, Elon Musk yakni Doge Coin melesat lebih gila lagi. Tercatat pada Januari 2021 Doge coin sempat loncat 687,68%. Tidak berhenti sampai di sana pada Februari dan Maret 2021 Doge Coin lanjut reli 30,83% dan 11,71%.

Apalagi mengingat mata uang rupiah yang terus terdepresiasi pada kuartal pertama ini semakin mendorong keuntungan para pemegang mata uang kripto. Walau begitu, umumnya crypto diperdagangkan berbasis mata uang Amerika.

Hal ini tentu saja menyebabkan pasar saham dalam negeri menjadi tidak menarik lagi karena terus terdepresiasi. Apalagi bursa baru-baru ini sedang mempersiapkan aturan penghilangan kode broker. Jadi hal ini tentu saja akan mempersulit investor ritel yang bertransaksi secara harian alias day trader.

Tentu saja apabila hal ini terus berlanjut, regulator tak bisa lagi berharap kepada investor ritel. Namun hal ini penting akibat tahun lalu, ritel sempat menjadi gerbang penahan terakhir kejatuhan IHSG.

Sumber: CNBC Indonesia