Emiten batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan laba bersih pada 9 bulan tahun ini atau September 2020 US$ 109,38 juta atau setara dengan Rp 1,6 triliun. Laba ini turun 73,05% dari periode yang sama tahun lalu yang menembus US$ 405,99 juta.

Emiten Batu Bara PT Adaro Energy Tbk Catat Laba Turun

Berdasarkan data laporan keuangan publikasi per kuartal III-2020, koreksi laba bersih ini terjadi seiring dengan penurunan pendapatan induk usaha PT Adaro Indonesia ini. Pendapatan ADRO per 9 bulan mencapai US$ 1,95 miliar atau setara dengan Rp 29 triliun. Angka ini turun 26,35% dari periode yang sama tahun lalu US$ 2,65 miliar atau sekitar Rp 39 triliun.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi Thohir, mengatakan penurunan permintaan terjadi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi dan minat beli yang melemah di negara-negara pengimpor utama. Pelemahan ini juga telah berdampak terhadap harga batu bara global yang menekan juga keuntungan perusahaan. Di masa yang sulit ini, perusahaan terus berfokus terhadap operasi dan efisiensi biaya, serta mengimplementasikan strategi untuk memperkuat bisnis inti. Namun perusahaan masih yakin meskipun dibayangi oleh tantangan ekonomi makro, perseroan masih dapat mempertahankan kinerja yang kuat.

Perusahaan juga tetap merasa optimistis terhadap fundamental industri di jangka panjang. Kemudian, perusahaan menyatakan, untuk menghadapi tantangan jangka pendek, fokus tertuju pada beberapa hal. Hal tersebut adalah untuk menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan, dan bertahan di jalur yang sudah ada. Selain itu juga perusahaan akan terus mengeksekusi strategi untuk memastikan kelangsungan bisnis dan tetap bersumbangsih terhadap pembangunan nasional.

Kondisi Perusahaan

Perusahaan menjelaskan bahwa penurunan pendapatan usaha sebesar 26% disebabkan penurunan Average Selling Price (ASP) dan volume penjualan, yang masing-masing turun 18% dan 9%. Di sisi lain, beban pokok pendapatan turun 20% secara tahunan menjadi US$ 1,49miliar. Biaya kas batu bara per ton (tidak termasuk royalti) turun 17% secara tahunan akibat penurunan nisbah kupas maupun harga bahan bakar.

Manajemen ADRO mengungkapkan bahwa biaya bahan bakar turun 28%, karena harga bahan bakar turun secara tahunan. Kemudian hal ini juga terjadi akibat konsumsi bahan bakar turun 18% seiring menurunnya produksi dan nisbah kupas. Adapun royalti kepada Pemerintah Indonesia turun 27% menjadi US$ $207 juta. Sementara itu, laba inti tercatat sebesar US$ 326 juta, atau turun 36% secara tahunan karena didorong penurunan profitabilitas.

Baca juga: PT Delta Djakarta Mencatat Penurunan Keuangan Perusahaan

Laba inti tidak termasuk komponen akuntansi non-operasional setelah pajak, yang di antaranya terdiri dari amortisasi properti pertambangan, rugi penurunan nilai properti pertambangan, rugi derivatif instrumen keuangan, dan rugi penurunan nilai wajar investasi pada perusahaan patungan. Total aset per September mencapai US$ 6,47 miliar setara dengan penurunan 11% dari periode yang sama tahun lalu. Aset lancar turun 18% menjadi US$ 1,73 miliar, sementara aset non lancar turun 17% menjadi US$ 4,74 miliar.

Dilansir dari CNBC Indonesia

Tags: