Meski kinerja terhambat oleh pandemi Covid-19, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) berhasil membukukan kinerja positif pada kuartal pertama 2021. Melalui kinerja positif dan pencapaian di kuartal pertama 2021, CLEO optimistis.

CLEO Positif Dapat Meningkatkan Kinerja

Hingga saat ini CLEO masih positif di tahun ini dapat membukukan pertumbuhan penjualan di atas rata-rata realisasi pertumbuhan industri AMDK. Sebagai produsen AMDK yang telah melantai di pasar bursa sejak tahun 2017 silam, perseroan telah memiliki 27 pabrik yang tersebar di Indonesia.

Adapun, CLEO mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 18%, dari Rp 35,46 miliar di Kuartal pertama 2020 menjadi Rp41,84 miliar pada periode yang sama tahun ini. Pertumbuhan laba bersih yang signifikan tersebut diraih melalui sejumlah perbaikan dan peningkatan di berbagai aspek.

Beberapa diantaranya adalah fokus pada ketersediaan dan kualitas produk, menambah wilayah jaringan distribusi, serta edukasi ke pelanggan atas keunggulan nilai produk. Kemudian cara lain adalah memperbaiki proses bisnis secara efektif. Terakhir adalah dengan melakukan efisiensi dan cost reduction di semua bagian.

Baca juga: PTBA Terus Turun, Kuartal Satu Cetak Laba Buruk

Melalui distributor utama, PT Sentralsari Primasentosa, CLEO melakukan pemetaan wilayah pemasaran dan mempertajam fokus pemasaran. Caranya adalah dengan penambahan jaringan distribusi dan optimalisasi pada pusat-pusat distribusi yang telah ada.

Sebab, fokus pada pengembangan pasar baru di wilayah yang belum tergarap, akan mampu mendongkrak peningkatan penjualan perseroan. Diprediksi peningkatan akan terjadi mulai kuartal kedua sampai akhir 2021, sehingga kinerja perseroan akan bertumbuh semakin baik di tahun 2021.

Masih Mengalami Penurunan

Namun di sisi lain, penjualan CLEO di kuartal pertama 2021 mengalami penurunan sebesar 12,5% menjadi Rp 237 miliar. Sedangkan di Kuartal pertama 2020, CLEO masih mencatatkan penjualan hingga Rp 271 miliar.

Manajemen CLEO menilai, perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama susutnya penjualan di periode tersebut. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk membatasi kegiatan masyarakat berkontribusi terhadap penurunan penjualan.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berbasis mikro (PPKM Mikro) yang berlangsung hingga saat ini menjadi penghalang. Selain itu pada periode kuartal pertama 2021 juga banyak terjadi bencana alam berupa banjir dan angin topan yang menghambat jalur transportasi darat dan kegiatan ekonomi. Semua pernyataan tersebut disampaikan oleh pihak manajemen.

Dilansir dari IPOT NEWS

Tags: