Bukalapak.com, Perusahaan e-commerce Indonesia,  akan menawarkan saham sebanyak-banyaknya sebesar 25.765.504.851 saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah saham baru dan dikeluarkan dari portepel dalam penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham ini ditawarkan dengan nilai nominal Rp 50 setiap saham, yang mewakili sebanyak-banyaknya sebesar 25,0% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah Penawaran Umum Perdana Saham.

Berdasarkan prospektus yang disampaikan di media massa pada Jumat ini (9/7), saham ditawarkan kepada masyarakat dengan harga penawaran berkisar antara Rp 750 sampai dengan Rp 850 setiap saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS). Dengan demikian, jumlah seluruh nilai IPO ini adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 21.900.679.123.350, alias nyaris Rp 22 triliun.

Lantas, bagaimana kinerja keuangan Bukalapak?

Berdasarkan data prospektus, tercatat pendapatan neto Bukalapak di 2020 mencapai Rp 1,35 triliun naik 25,55% dari 2019 sebesar Rp 1,08 triliun. Sementara, pada Maret 2021, pendapatan neto mencapai Rp 432,70 miliar tumbuh 32,31% dari Maret 2020 sebesar Rp 320,23 miliar. Sebagai informasi, Bukalapak memiliki tiga segmen utama, yakni, pertama, marketplace, yang mencakup segala aktivitas di marketplace terkait jasa fitur, logistik, dan sebagainya.

Kedua, segmen mitra yang mencakup aktivitas mitra sebagai agen dengan pihak ketiga. Kemudian, ketiga, segmen BukaPengadaan, mencakup aktivitas pengadaan barang dan jasa. Berdasarkan segmen usaha, kontribusi terbesar pendapatan neto konsolidasian untuk tahun 2020 adalah marketplace, yaitu sebesar 75,9% atau senilai Rp1,03 triliun. Menurut penjelasan dalam prospektus, kenaikan penjualan neto di tahun 2020 terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan neto konsolidasian di marketplace sebesar 41,2% atau senilai dengan Rp300,92 miliar.

Sama seperti tahun 2020, pada 2019, kontribusi terbesar pendapatan neto konsolidasian adalah marketplace yaitu menyumbang 67,9% atau senilai Rp 731,06 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan neto konsolidasian di Marketplace sebesar 165,8% atau senilai dengan Rp455,99 miliar. Namun perusahaan yang disokong Grup Emtek ini masih mencatat rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (selanjutnya, rugi bersih) di 2020 Rp 1,35 triliun, membaik 51,74% dari rugi bersih di 2019 Rp 2,79 triliun.

Sementara pada Maret 2021 Bukalapak kembali memangkas rugi bersih juga sebesar 17,85% menjadi Rp 323,25 miliar dari rugi bersih di periode yang sama tahun 2020 yakni Rp 393,49 miliar. Total aset perusahaan pada 2020 mencapai Rp 2,59 triliun, meningkat 26,29% dari total aset 2019 sebesar Rp 2,05 triliun. Adpaun per akhir Maret 2021, total aset Bukalapak mencapai Rp 2,75 triliun.

Kemudian, total liabilitas pada tahun lalu naik 9,72% dari Rp 898,47 miliar pada 31 Desember 2019 menjadi Rp 985,82 miliar sepanjang 2020. Per kuartal I 2021, liabilitas perusahaan sebesar Rp 1,04 triliun.

Selanjutnya, pada 2020 Bukalapak juga mengalami kenaikan total ekuitas sebesar 39,18% menjadi Rp 1,61 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1,16 triliun. Pada Maret 2021, total ekuitas perusahaan kembali meningkat menjadi Rp 1,71 triliun.

Sebagai informasi, Bukalapak akan menggunakan 66% dari dana IPO untuk modal kerja, sementara sisanya untuk entitas anak yakni 15% untuk dialokasikan kepada PT Buka Mitra Indonesia, 15% untuk PT Buka Usaha Indonesia, dan 15% untuk Buka Investasi Bersama. Lalu 1% untuk PT Buka Pengadaan Indonesia, 1% untuk Bukalapak Pte Ltd dan 1% untuk PT Five Jack Indonesia.

Bukalapak sudah menyampaikan undangan paparan publik (public expose) dalam rangka IPO.

Dalam undangan yang disebar perusahaan kepada media massa, disebutkan public expose Bukalapak.com yang sudah menyematkan kata “Terbuka/Tbk” di belakang namanya itu akan dilakukan pada Jumat ini (9/7), mulai pukul 09.40-10.50 WIB secara live, termasuk siaran lewat akun Youtube Bukalapak.

Dalam keterangan tersebut, Bukalapak ternyata sudah menunjuk empat penjamin emisi (underwriter), terdiri dari penjamin emisi efek yakni PT UBS Sekuritas Indonesia dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan penjamin pelaksana emisi efek yakni PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas.

Masa penawaran awal (bookbuilding dalam penentuan harga) yakni 9-19 Juli, tanggal efektif dari OJK diharapkan pada 26 Juli dan masa penawaran umum pada 28-30 Juli. Adapun target tercatat di papan perdagangan atau listing di BEI pada 6 Agustus mendatang.

Baca juga: Bukalapak Berencana Buka Lapak di Bursa