Di hari Senin, pasar saham Eropa dan harga minyak turun karena perselisihan antara pejabat tinggi AS dan China atas asal mula virus corona. Hal ini memicu kekhawatiran perang dagang baru, serta menggagalkan rebound di pasar global.

Saham Eropa dibuka turun 2,5% dengan perdagangan berjangka AS ditutup mendekati 1% di zona merah. Sebelumnya, indeks terluas MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 2,5%, ditarik oleh Hong Kong di mana Hang Seng kembali dari liburan dua sesi dengan penurunan terbesar dalam enam minggu terakhir.

Spekulasi Virus Corona Antara Amerika dan Tiongkok

Sekretaris Negara A.S. Mike Pompeo berspekulasi pada hari Minggu terdapat sejumlah besar bukti bahwa virus itu muncul dari sebuah laboratorium di kota Wuhan di Tiongkok bagian tengah.

Pompeo tidak memberikan bukti atau membantah kesimpulan dari teori intelijen AS sebelumnya bahwa virus itu bukan buatan manusia. Editorial di China Global Times mengatakan dia “menggertak” dan meminta Amerika Serikat untuk memberikan bukti.

“Kekhawatiran tentang potensi gejolak antara AS dan Cina mendominasi aksi harga,” ungkap ahli strategi RBC, Adam Cole dalam catatan pagi.

Simon Black, kepala manajemen investasi di perusahaan manajemen kekayaan Dolfin mengatakan, para investor menyesuaikan perkiraan mereka berdasarkan kerugian yang dihasilkan pandemi.

“Ini juga realitas ekonomi yang sedang terpurul,” ungkap Simon seraya menambahkan bahwa rebound lebih dari 20% dari posisi terendah yang dicapai pada Maret oleh ekuitas global kemungkinan tidak berkelanjutan.

Perusahaan yang terdaftar di pan-European STOXX 600 saat ini diperkirakan melaporkan penurunan 40% dalam pendapatan pada kuartal kedua. Aktivitas manufaktur di zona euro runtuh bulan lalu ketika pemerintah memberlakukan lockdown untuk menghentikan penyebaran virus corona yang memaksa pabrik tutup dan konsumen tetap berada di dalam rumah.

“Kami baru saja bangkit dari reli harapan, bukan reli pada fundamental,” ungkap Simon, menunjuk pada stimulus moneter dan fiskal besar-besaran yang dijanjikan oleh pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia.

Baca juga: 3 Alasan Harga Bitcoin Bisa Hancur jika Pasar Saham AS Runtuh

Gambaran Kondisi Ekonomi Pasca Lockdown

Data ekonomi baru-baru ini melukiskan gambaran mengerikan dari ekonomi global setelah minggu-minggu terkunci.

Di Amerika Serikat, manufaktur anjlok ke level terendah 11-tahun bulan lalu. Tingkat belanja konsumen runtuh, dan sekitar 30,3 juta orang Amerika telah mengajukan klaim pengangguran.

Harga minyak kembali turun, memangkas kenaikan yang dicatatkan pada pekan lalu. Di tengah kekhawatiran kelimpahan minyak global mungkin berlanjut bahkan ketika lockdown pandemi virus corona mulai mereda.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun menjadi $ 18,66 per barel. Sementara minyak mentah Brent berjangka turun 1,7% pada $ 26, setelah menyentuh rendah $ 25,50. Brent naik sekitar 23% minggu lalu setelah kerugian tiga minggu berturut-turut.

Di pasar mata uang, dolar naik 0,1% menjadi 99,38 melawan beberapa mata uang sementara euro turun 0,48% pada $ 1,0930. Safe-haven yen turun 0,2% menjadi 106,72 per dolar.

Kasus global virus corona telah melampaui 3,5 juta dan kematian telah mendekati seperempat juta, berdasarkan data yang dilansir dari Reuters.

Tags: