Swiss menjadi negara berikutnya yang mengalami resesi akibat pandemi Covid-19. Akibatnya mata uang Swiss yakni Franc/CHF mengalami pelemahan terhadap Rupiah tetapi masih masih mampu menguat dengan dolar Amerika Serikat. Franc merupakan mata uang yang dianggap sebagai safe haven asset seperti dolar Amerika dan Yen Jepang, oleh karena itu sejauh ini harganya masih cukup stabil meskipun negaranya mengalami resesi.

Dilansir dari Swissinfo, dari bulan April hingga Juni, Swiss mengalami penurunan aktivitas ekonomi paling tajam sejak angka triwulanan pertama kali dicatat pada tahun 1980. Masih bernasib lebih baik daripada banyak negara lain dalam menghadapi pandemi Covid-19. Statistik terbaru yang dirilis oleh State Secretariat for Economic Affairs (SECO) pada hari Kamis mengungkapkan bahwa Produk Domestik Bruto turun 8,2% antara April dan Juni 2020 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Pada kuartal pertama, PDB turun 2,5% Dibandingkan dengan kuartal terakhir 2019, sebelum pandemi, PDB pada paruh pertama tahun 2020 turun secara kumulatif 10,5%. Kemerosotan tidak sepenuhnya mengejutkan, menurut analis ekonomi, beberapa di antaranya memperkirakan penurunan yang lebih tajam untuk kuartal kedua. SECO juga mengatakan bahwa struktur ekonomi domestik berkontribusi pada penurunan yang “relatif ringan” menurut standar internasional.

Baca juga: Dolar Hong Kong Tengah Diuji Terhadap Resesi Ekonomi

Kemerosotan yang lebih besar dapat dicegah sebagian berkat pentingnya sektor farmasi, yang meningkatkan penjualan pada kuartal terakhir. Sebaliknya, sektor industri termasuk mesin, jam tangan, dan logam, yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi, mengalami kemunduran dengan penurunan ekspor sebesar 9%.

Sektor di Swiss yang  Terdampak Paling Parah

Sektor jasa, terutama industri hotel dan restoran, terpukul paling parah oleh langkah-langkah penanggulangan Covid-19. Namun, SECO menulis, hasil di sini juga lebih baik daripada negara tetangga yang lebih mengandalkan pariwisata.

Penutupan toko dan restoran selama beberapa minggu selama penutupan sebagian di musim semi menyebabkan belanja konsumen turun 8,6% pada kuartal terakhir. Saluran alternatif, seperti belanja online, hanya mampu mengimbangi sebagian kekurangan. Meskipun pemulihan diperkirakan akan terjadi pada tahun 2021, dengan tingkat pertumbuhan antara 3-6%, SECO tidak mengharapkan negara tersebut kembali ke tingkat produktivitas ekonomi yang tercatat pada akhir 2019.

Baca juga: Rupiah Terlihat Menguat Kemarin Akibat Depresiasi Dolar Amerika

Pada hari Kamis, pemerintah Swiss juga mengumumkan telah menganggarkan defisit CHF senilai 1,1 miliar untuk tahun 2021, yang lebih baik dari perkiraan. Ada beberapa alasan untuk hal ini termasuk cadangan yang cukup pada awal proses perencanaan anggaran, distribusi keuntungan tambahan oleh Bank Nasional Swiss dan penundaan penerimaan pajak hingga 2021 sebesar CHF 2,4 miliar.

Tags: