Kurs dolar AS anjlok dalam beberapa hari terakhir. Namun, rupiah masih belum mampu mencatat penguatan. Indeks dolar AS yang kembali jeblok hingga 0,62% Senin kemarin. Total dalam 4 hari perdagangan, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini jeblok 1,7%.

Sore ini indeks dolar AS juga kembali turun 0,26% ke 108,03, melansir data Refinitiv. Sayangnya rupiah belum mampu menguat. Saat pembukaan perdagangan rupiah stagnan, kemudian sempat melemah 0,22% ke Rp 14.872/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 14.850/US$, melemah 0,07% di pasar spot.

Amerika Serikat malam ini akan merilis data inflas berdasarkan consumer price index (CPI). Pelaku pasar masih wait and see yang membuat rupiah sulit menguat.
Hasil survei dilakukan Reuters menunjukkan inflasi melambat menjadi 8,1% year-on-year (yoy) pada Agustus, dari bulan sebelumnya 8,5% (yoy).

Jika sesuai ekspektasi, maka inflasi di Amerika Serikat akan semakin menjauhi level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun, 9,1%, yang dicapai pada Juni lalu.

Rilis tersebut kembali memunculkan harapan jika bank sentral AS (The Fed) bisa mengendurkan agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga.

“Rilis data CPI akan sangat penting bagi The Fed. Data CPI yang tinggi akan membuat mereka menaikkan 75 basis poin. Sementara jika kita melihat CPI di bawah konsensus umumnya, kami akan mengatakan mereka akan menaikkan 50 basis poin,” kata Kristina Clifton, ekonom senipor di Commonwealth Bank of Australia, sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (13/8/2022).

Baca juga: CPI dan Forex: Bagaimana Data CPI Mempengaruhi Harga Mata Uang

Gubernur The Fed, Christoper Waller pada Jumat lalu mengatakan keputusan The Fed kini seharusnya sangat tergantung dari rilis data, bukan proyeksi ke depannya.

“Melihat rapat kebijakan moneter ke depan, saya mendukung kenaikan suku bunga yang signifikan lagi. Namun, melihat jauh ke depan saya tidak bisa memberi tahu anda jalur kebijakan moneter yang tepat. Puncak suku bunga dan seberapa cepat kita bergerak akan tergantung dari data ekonomi yang kita dapat,” kata Waller sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (9/9/2022).

Meski demikian, Waller ia menunjukkan suku bunga akan dinaikkan 75 basis poin di bulan ini.

Sebelum rilis CPI, data ekspektasi inflasi juga sudah menunjukkan penurunan. Artinya konsumen di Amerika Serikat sudah melihat tanda-tanda inflasi mencapai puncaknya.
Data dari The Fed wilayah New York menunjukkan pada Agustus ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan sebesar 5,75%. Angka tersebut turun jauh dari bulan sebelumnya 6,2% dan menjadi yang terendah sejak Oktober 2021, atau saat The Fed mulai mengetatkan kebijakan moneternya.

Rilis tersebut juga menunjukkan rata-rata inflasi dalam 3 tahun ke depan berada di kisaran 2,8%, terendah sejak akhir 2020.

Ekspektasi inflasi menjadi salah satu faktor penting yang bisa menentukan tingkat inflasi. Ketika ekspektasi inflasi tinggi, ada risiko produsen akan menaikkan harga produknya, yang pada akhirnya memicu kenaikan CPI.

 

Sumber

Baca juga: Likuiditas Valas di RI Tertekan, Rupiah Melemah