Pelantikan direksi Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk SWF oleh Presiden Jokowi menjadi sentimen positif bagi saham konstruksi.

INA diyakini akan membantu menyelesaikan persoalan keuangan emiten konstruksi yang saat ini memiliki utang tinggi. INA akan menjadi sumber pembiayaan baru bagi emiten konstruksi pelat merah.

SWF Resmi Bergerak

Sovereign Wealth Fund (SWF) ini merupakan salah satu cetusan yang muncul bersama dengan adanya UU Cipta Kerja yang baru saja diresmikan tahun lalu.

SWF sendiri merupakan sebuah badan yang akan mengelola seluruh investasi yang dimiliki oleh negara agar terurus secara terstruktur.

Pembentukan SWF ini akan mendorong pergerakan sektor konstruksi akibat fokus utama dari rencana pemerintah yang mendorong infrastruktur.

Selain itu, mengingat keuntungan terbesar salah satunya investasi yang berasal dari sektor properti, saham konstruksi menjadi salah satu sektor yang terdorong.

Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai sisi fundamental melalui riset dari CNBC yang menggunakan beberapa rasio.

Rasio tersebut dilihat dari tiga aspek yaitu Price Earning Ratio (PER), Price to book value (PBV), dan Debt to Equity Ratio (DER). Untuk melihat kondisi yang baik umumnya seluruh apek tersebut bernilai di bawah satu.

7 Emiten Konstruksi Menjadi Perhatian

Ada tujuh emiten yang dianalisis, yakni PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Mengacu pada data kemarin, ADHI memiliki PER tinggi sebesar 264,74 kali dengan PBV kecil pada 0,98 kali bersama DER yang sudah 574,59% atau 5 kali lebih.

Saham PTPP diperdagangkan dengan PER yang tinggi, yakni 320,08 kali. Untuk PBV, PTPP tergolong wajar pada 1,03 kali. DER PTPP lebih rendah dari ADHI, yakni 363,89%.

Baca juga: Waskita Targetkan Kontrak Baru Sebesar Rp2,6 Triliun Kuartal Satu 2021

WSKT memiliki PER yang negatif, -6,20 kali. PER negatif menandakan emiten sedang mengalami rugi bersih. PBV WSKT sebesar 1,63 kali dengan DER WSKT tertinggi di antara emiten konstruksi, sebesar 688,34%.

WIKA mencatatkan PER sebesar 268,07 kali dengan PBV 1,33 kali dan DER 334,67%. WEGE memiliki PER terendah di antara emiten BUMN karya lainnya, yakni 13,71 kali. PBV WEGE tergolong wajar, yakni 1,12 kali. Anak usaha WIKA ini mencatatkan DER sebesar 156,97%.

WTON mencatatkan PER 44,99 kali dengan PBV ideal pada 1,01 kali dan DER 187,77%. JSMR tercatat memiliki PER 157,15 kali dengan PBV 1,75 kali dan DER 421,36%.

Oleh karena itu, nampaknya saat ini langkah yang tepat adalah untuk melihat beberapa emiten yang memiliki PBV dan PER rendah. Hal ini disebabkan DER yang tinggi kemungkinan tidak akan menjadi masalah akibat umumnya emiten konstruksi memiliki utang yang tinggi, terutama BUMN.

Dilansir dari CNBC Indonesia

 

Tags: