Saham FAST turun setelah kalangan buruh tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) SBT PT Fast Food Indonesia Tbk menggelar aksi demonstrasi. Aksi tersebur dilakukan di depan gerai KFC Gelael, MT Haryono, Jakarta, yang juga sebagai lokasi kantor pusat perusahaan.

Karyawan KFC Demo

Demo oleh karyawan ini disebabkan kondisi KFC yang nampaknya terlihat belum membaik dari dampak Covid-19 yang sedang terjadi.

Tahun lalu, per September 2020, tercatat jumlah karyawan perusahaan sudah berkurang hingga 893 orang menjadi 16.075 orang. Angka tersebut terkesan cukup signifikan dibandingkan dengan 31 Desember 2019 yang masih sebanyak 16.968 orang.

Sementara itu, pada periode 30 September 2020, perusahaan telah mengoperasikan 738 gerai restoran, terpangkas 10 gerai dari 31 Desember 2019. Informasi ini tercatat dalam laporan keuangan FAST yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI.

Sebagai perbandingan, pada 2018 perusahaan mempunyai 16.162 karyawan tetap dibandingkan dengan 2017 sebanyak 17.496 karyawan tetap. Angka tersebut merupakan penguranan karyawan sebanyak 1.334 orang dalam setahun.

Jika digabung dengan periode 2017-September 2020, maka karyawan tetap KFC Indonesia berkurang 1.421. Manajemen belum menyebutkan secara detail pengurangan karyawan tetap tersebut apakah kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), atau mengundurkan diri secara sukarela.

Pendapatan Turun

Saat ini, KFC Indonesia didera persoalan lantaran adanya protes para pekerja soal kebijakan pemangkasan upah. Para pekerja mendesak Fast Food mengeluarkan kebijakan pembayaran upah sebagaimana mestinya dan mengembalikan upah ditahan perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan, pada periode Januari hingga kuartal ketiga 2020, KFC membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp 298,34 miliar. Angka ini berbanding terbalik dari September 2019 yang mencatat laba bersih sebesar Rp 175,70 miliar.

Kerugian tersebut dialami seiring dengan pendapatan FAST yang jatuh 28,47% secara tahunan. Penurunan tersebut membuat pendapatan menjadi hanya Rp 3,59 triliun, turun dari September 2019 yakni sebesar Rp 5,01 triliun.

Baca juga: Saham NPGF Resmi Melantai di Bursa Saham, Harganya Naik 35% Lebih!

Berdasarkan penjelasan di laporan keuangan, manajemen FAST menyatakan, perusahaan terus terpengaruh oleh Covid-19. Melemahnya daya beli pelanggan, dan kebijakan publik yang diberlakukan untuk menahan penyebaran Covid-19 mengakibatkan gangguan operasional.

Akibatnya, FAST mengalami pertumbuhan penjualan yang negatif untuk periode 9 bulan yang berakhir pada 30 September 2020. FAST juga mengalami kerugian bersih sebagaimana diungkapkan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

Hal tersebut membuat saat ini saham FAST masih terlihat stagnan dan berkonsolidasi diantara Rp 1.000 hingga Rp 1.080 dan belum terlihat akan pulih.

Dilansir dari CNBC Indonesia

Tags: