Permintaan Gas dikabarkan naik ditengah pandemi yang berlangsung hingga saat ini. Kenaikan ini mulai terjadi bersamaan dengan implementasi harga gas bagi industri sesuai tertera dalam Keputusan Menteri ESDM No. 89 K/10/MEM/2020.

Permintaan Gas Naik

Bersamaan dengan implementasi harga gas bagi industri yang tertera di Keputusan Menteri ESDM, permintaan terhadap gas terlihat naik. Permintaan yang naik ini terlihat dari penjualan gas oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk., (PGAS) yang terus meningkat walau di masa pandemi Covid-19.

Menurut Division Head, Marketing Research & Strategy PGAS, Houstina Anggraini, perseroan menyalurkan gas sebanyak 309 BBTUD kepada 189 pelaku industri penerima manfaat harga gas US$ 6 per MMBTU sejak bulan April lalu. Pelaku industri yang merasakan penurunan harga gas meliputi industri pupuk, baja, keramik, kaca lembaran, kimia dasar, petrokimia, hingga sarung tangan karet.

Penjualan gas PGAS mulai merangkak naik di Bulan Juni menjadi 217 BBTUD. Kemudian, kembali berlanjut di bulan Juli menjadi 250 BBTUD lantaran pelaku industri perlahan-lahan mulai merasakan manfaat penurunan harga gas. Namun, tingkat penyerapan gas di sektor industri cenderung melambat sepanjang tahun ini yakni di kisaran 65%.

Baca juga: Malindo Feedmill Melakukan Ekspor Perdana Ke Jepang!

Houstina menilai, di samping permintaan gas industri yang belum optimal, tantangan PGAS lainnya adalah menyediakan infrastruktur gas yang benar-benar memadai. Kedepannya, PGAS berusaha untuk mengoptimalkan alokasi gas industri dengan mendorong industri melalui Kementerian Perindustrian untuk memanfaatkan gas bumi sesuai alokasi volume dan menyelesaikan segala Gas Sales Agreement (GSA) di sektor hulu.

Selain itu, PGAS juga berkomitmen untuk terus mengembangkan infrastruktur jaringan gas terlepas dari tantangan pandemi Covid-19. Untuk itu, PGAS terus mendukung rencana pemerintah yang dalam pembangunan sebanyak 4 juta sambungan rumah hingga tahun 2024 mendatang. Pembangunan ini dikabarkan akan memakan biaya sebesar Rp 35 Triliun.

Diprediksi bahwa proyek tersebut dapat menurunkan impor LPG sebanyak $17,2 Juta per tahun, penghematan belanja masyarakat sebanyak $0,3 Triliun per tahun, dan penghematan subsidi LPG sebanyak Rp 3,3 Triliun per tahun. Proyek tersebut juga dapat menyerap tenaga kerja hingga 39.180 orang.

Dampak Terhadap Saham PGAS

Akibat adanya proyeksi proyek yang dapat membantu pemulihan PGAS, kemungkinan besar saham PGAS sendiri akan terdorong. Hal ini disebabkan kabar tersebut yang menjadi sentimen positif untuk pasar.

Pergerakan Harian PGAS

Saat ini pergerakan saham PGAS masih terlihat positif dari akhir Maret 2020. Saham tersebut belum memperlihatkan tanda-tanda pelemahan yang membuat potensi kabar proyek menjadi sentimen positif yang terus mendorong naik.

Jika harga saham tersebut terus naik, kemungkinan besar target selanjutnya ada pada Rp 1.429 bertepatan dengan titik 50% Fibonacci dari harga tertinggi akhir Desember 2019 hingga harga terendah 2020. Apa bila batas atas tersebut berhasil dilalui, kemungkinan tujuan selanjutnya ada pada Rp 1.624 sebelum menyentuh Rp 1.901 dan kemudian Rp 2.254 melewati harga tertinggi 2020.

Namun, untuk saat ini, batas bawah pengaman saham berada di Rp 1.234. Jika saham terus turun, kemungkinan batas bawah selanjutnya adalah pada Rp 993 sebelum menyentuh Rp 603. Namun, melihat indikator Fibonacci, nampaknya harga saham masih akan terus bergerak ke atas.

Dilansir dari IPOTNEWS

Tags: