Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 0,87% ke level 6.924 kemarin. IHSG sempat drop ke level terendah di 6.837,73 di sesi I.

Namun indeks sukses rebound di sesi II. Asing pun kembali net buy. Kali ini asing beli bersih Rp 286,4 miliar di pasar reguler.

Mayoritas bursa saham Asia menguat kemarin. Indeks Nikkei Jepang bahkan menguat hampir 4%, kemudian disusul oleh Straits Times yang naik 1,42% sebagai runner up dan Hang Seng di posisi ketiga dengan kenaikan 1,27%.

Kendati menguat hampir satu persen, namun kinerja IHSG tak seciamik bursa saham utama Asia lain. Namun tak mengapa karena memang sebelumnya IHSG sudah leading terlebih dahulu beberapa kali.

Untuk perdagangan hari ini ada beberapa sentimen yang patut dicermati investor. Pertama adalah Wall Street yang melemah karena inflasi AS yang semakin ganas.

Inflasi AS per Februari melesat sebesar 7,9% (secara tahunan), menjadi yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir, dan melampaui ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memprediksi angka 7,8%. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,8%, atau lebih tinggi dari estimasi sebesar 0,7%.

Banyak pelaku pasar yang khawatir bahwa ekonomi AS akan kembali ke tahun 1970-an di mana di saat tersebut negeri Paman Sam berada dalam salah satu periode terburuknya karena mengalami stagflasi.

Sementara itu, bank sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya. Namun ECB mengatakan bakal mengakhiri program pembelian obligasi pada kuartal III tahun ini.

Namun penghentian pembelian obligasi tersebut dengan catatan bahwa data-data ekonomi sudah meyakinkan. Salah satunya adalah inflasi. Tidak hanya di AS saja yang mengalami peningkatan inflasi, negara-negara Eropa juga menghadapi hal serupa dan terancam mengalami stagflasi.

Secara sentimen memang banyak kabar buruk yang berseliweran. Namun bagaimana prospek Indeks Harga Saham Gabungan hari ini? Berikut ulasan teknikalnya.

Analisis Teknikal

Sumber: CNBC Indonesia

Baca juga: IHSG Diprediksi Bisa Tembus 7.400 Tahun Ini

Pergerakan IHSG dianalisis berdasarkan periode harian (daily) dan menggunakan indikator Bollinger Band (BB) untuk menentukan area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat posisi penutupan kemarin dan indikator BB, IHSG tampak bergerak mendekati level resisten terdekat di level 6.955.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan juga dilihat dengan indikator teknikal lain yaitu Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

Perlu diketahui, RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

RSI cenderung bergerak naik yang menunjukkan penguatan momentum beli. Namun RSI masih berada di level 57,93. Belum menunjukkan adanya indikasi jenuh beli.

Apabila menggunakan indikator teknikal lain yakni Moving Average Convergence Divergence (MACD), tampak garis EMA 12 sudah mendekati garis EMA 26.

Jika melihat indikator teknikal maka ada peluang IHSG menguat. Namun, tetap waspada dengan sentimen buruk yang mendominasi dan dapat memicu volatilitas tinggi.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG akan bergerak di rentang 6.859-6.955.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

 

Sumber

Baca juga: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Berpotensi Lanjutkan Pelemahan