Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar modal dengan saham yang terbagi dalam indeks syariah.

Keberadaan indeks ini merupakan sebuah pencapaian akibat tidak semua negara memiliki indeks syariah yang jelas dan layak diinvestasikan.

Mengenal Tiga Indeks Syariah Indonesia

Indonesia memiliki tiga indeks syariah utama yaitu ISSI, JII30, dan juga JII70. JII30 dan JII70 adalah dua indeks yang hampir sama, namun memiliki perbedaan masing-masing.

Seluruh indeks tersebut akan dibahas dalam artikel ini sehingga investor dapat memiliki pandangan lebih luas mengenai indeks saham syariah di Indonesia.

Indeks pertama yang akan dibahas adalah indeks saham ISSI yaitu Indonesia Sharia Stock Index atau Indeks Saham Syariah Indonesia.

Menurut penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks ini merupakan Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham di Papan Utama dan Papan Pengembangan yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK).

Baca juga: Mengintip Jadwal RUPSLB Pekan Depan, Terdapat Cukup Banyak

Indeks ini diluncurkan tanggal 12 Mei 2011 yang dibentuk sebagai indikator dari kinerja pasar saham syariah Indonesia.

Konstituen ISSI adalah seluruh saham syariah yang tercatat di BEI dan masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK.

ISSI diseleksi ulang sebanyak dua kali dalam setahun, setiap bulan Mei dan November, mengikuti jadwal ulasan DES.

Metode perhitungan ISSI mengikuti metode perhitungan indeks saham BEI lainnya, yaitu rata-rata tertimbang dari kapitalisasi pasar dengan menggunakan Desember 2007 sebagai tahun dasar perhitungan ISSI.

Indeks Saham JII, Indeks Paling Umum

Indeks saham berikutnya adalah JII atau Jakarta Islamic Index yang merupakan indeks yang lebih sering dijadikan acuan pada umumnya dibandingkan dengan ISSI.

JII terbagi menjadi dua dimana terdapat Indeks JII30 dan juga JII70, dimana perbedaannya terdapat di jumlah saham dalam indeksnya.

JII30 memiliki 30 saham yang lebih kuat dibandingkan JII70 dimana terdapat 70 saham. JII70 adalah indeks saham syariah yang diluncurkan BEI pada tanggal 17 Mei 2018.

Konstituen JII70 hanya terdiri dari 70 saham syariah paling likuid yang tercatat di BEI. Sama seperti ISSI, pengulasan saham syariah yang menjadi konstituen JII dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun, Mei dan November, mengikuti jadwal ulasan DES oleh OJK.

BEI menentukan dan melakukan seleksi saham syariah yang menjadi konstituen JII70. Kriteria seleksi yang digunakan ada empat. Pertama saham syariah harus masuk dalam konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) selama 6 bulan terakhir.

Kedua dipilih 150 saham berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar tertinggi selama 1 tahun terakhir. Dari 150 saham tersebut, kemudian dipilih 70 saham berdasarkan rata-rata nilai transaksi harian di pasar regular tertinggi. Terakhir 70 saham yang tersisa merupakan saham terpilih.

Mengenal JII30 Acuan Umum Utama Saham Syariah Indonesia

Sama dengan JII70, JII30 juga merupakan indeks saham syariah yang pertama kali diluncurkan di pasar modal Indonesia namun pada tanggal 3 Juli 2000.

Konstituen JII30 hanya terdiri dari 30 saham syariah paling likuid yang tercatat di BEI. Sama seperti ISSI, pengulasan saham syariah yang menjadi konstituen JII dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun, Mei dan November, mengikuti jadwal ulasan DES oleh OJK.

BEI menentukan dan melakukan seleksi saham syariah yang menjadi konstituen JII30. Kriteria seleksi yang digunakan sama seperti JII70 namun terdapat beberapa perbedaan.

Pertama, saham syariah harus masuk dalam konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) telah tercatat selama 6 bulan terakhir. Lalu, dipilih 60 saham berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar tertinggi selama 1 tahun terakhir.

Dari 60 saham tersebut, kemudian dipilih 30 saham berdasarkan rata-rata nilai transaksi harian di pasar regular tertinggi. Terakhir 30 saham yang tersisa merupakan saham terpilih.

Indeks saham ini sering kali menjadi acuan utama investor untuk membentuk portfolio saham syariah yang kuat. Sehingga pengetahuan ini dapat menjadi pandangan baru untuk investor melakukan diversifikasi.

 

 

 

 

Tags: