Market crash terjadi ketika indeks pasar turun drastis dalam satu hari, atau beberapa hari perdagangan. Crash terjadi lebih tiba-tiba daripada koreksi pasar saham, yaitu ketika pasar turun 10% dari tertinggi 52 minggu selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Masing-masing bull market dalam 40 tahun terakhir telah mengalami koreksi. Ini adalah bagian alami dari siklus pasar yang disambut baik oleh investor yang bijaksana.

Penyebab Market Crash

Sederhananya, penjual yang ketakutan menyebabkan terjadinya market crash.

Peristiwa ekonomi, malapetaka, atau krisis yang tidak terduga memicu kepanikan. Misalnya, kehancuran pasar tahun 2008 dimulai pada 29 September 2008, ketika Dow turun 777,68 poin. Itu adalah penurunan poin terbesar dalam sejarah Bursa Efek New York pada saat itu. Investor panik setelah Kongres gagal menyetujui RUU bailout bank. Mereka takut bahwa lebih banyak lembaga keuangan akan bangkrut seperti Lehman Brothers.

Crash umumnya terjadi pada akhir bull market yang diperpanjang. Saat itulah kegembiraan atau keserakahan irasional telah mendorong harga saham ke tingkat yang tidak berkelanjutan. Pada saat itu, harga berada di atas nilai riil perusahaan yang diukur dengan pendapatan.

Perkembangan teknis baru yang disebut “quantitative trading” telah menyebabkan crash baru-baru ini. “Analis kuantitas” menggunakan algoritme matematika dalam program komputer untuk memperdagangkan saham. Program perdagangan telah berkembang ke titik di mana ia menggantikan investor individu, keserakahan, dan kepanikan sebagai penyebab crash.

Salah satu contohnya adalah flash crash yang terjadi pada 6 Mei 2010. Dow anjlok hampir 1.000 poin hanya dalam beberapa menit. Program quantitative trading ditutup karena kerusakan teknis.

Efek dari Market Crash

Market crash dapat menyebabkan bear market. Saat itulah pasar jatuh 10% di luar koreksi untuk penurunan total 20% atau lebih. Crash pasar saham juga dapat menyebabkan resesi.

Saham merupakan sumber modal penting yang digunakan perusahaan untuk mengelola dan mengembangkan bisnis mereka. Jika harga saham turun drastis, perusahaan memiliki kemampuan yang lebih kecil untuk tumbuh. Perusahaan yang tidak berproduksi pada akhirnya akan memberhentikan pekerja agar tidak bangkrut. Karena pekerja diberhentikan, pengeluaran lebih sedikit. Penurunan demand berarti lebih sedikit pendapatan, yang berarti lebih banyak PHK. Ketika penurunan berlanjut, ekonomi berkontraksi, menciptakan resesi. Di masa lalu, kehancuran pasar saham mendahului Depresi Hebat, resesi 2001, dan Resesi Hebat 2008.

Baca juga: Begini Cara Mengurangi Risiko Trading

Hal yang Tidak Harus Dilakukan saat Market Crash

Selama crash, jangan menyerah pada godaan untuk menjual. Ini seperti mencoba menangkap pisau yang jatuh. Crash pasar saham akan membuat investor individu menjual dengan harga terendah. Itu justru hal yang salah untuk dilakukan. Mengapa?

Pasar saham biasanya mengalami kerugian di bulan-bulan setelah crash. Saat pasar naik, penjual takut membeli lagi. Akibatnya, mereka mengunci kerugian mereka. Jika Anda menjual selama crash, Anda mungkin tidak akan membeli tepat waktu untuk menutupi kerugian.

Taruhan terbaik adalah menjual sebelum crash. Bagaimana bisa tahu kapan pasar akan runtuh? Ada perasaan “Saya harus masuk sekarang, atau saya akan kehilangan profit,” yang mengarah pada panic buying. Tetapi sebagian besar investor akhirnya membeli tepat di puncak pasar. Emosi, bukan keuangan yang mendorong mereka.

Apa solusinya? Pertahankan diversifikasi portofolio saham, obligasi, dan komoditas.

Lindungi Diri dengan Menyeimbangkan Kembali

Seimbangkan kembali portofolio Anda saat kondisi pasar berubah. Jika Anda melakukannya dengan baik, maka Anda telah menjual saham saat nilainya naik. Jika ekonomi memasuki resesi, penyeimbangan kembali yang berkelanjutan bisa dilakukan dengan membeli saham saat harga turun. Ketika naik lagi, Anda akan mendapat untung dari kenaikan harga saham.

Menyeimbangkan kembali portofolio yang terdiversifikasi adalah cara terbaik untuk melindungi diri dari market crash. Bahkan investor paling canggih pun merasa sulit untuk mengenali kehancuran pasar saham sampai semuanya terlambat.

Emas Bisa Menjadi Lindung Nilai

Emas mungkin menjadi lindung nilai terbaik terhadap potensi kehancuran pasar saham. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Trinity College menemukan bahwa, selama 15 hari setelah crash, harga emas meningkat secara dramatis. Investor yang ketakutan menjadi panik, menjual saham mereka, dan membeli emas. Setelah 15 hari pertama, harga emas kehilangan nilai terhadap rebound harga saham. Investor memindahkan uang kembali ke saham untuk mengambil keuntungan dari harga yang lebih rendah. Mereka yang memegang emas melewati 15 hari mulai kehilangan uang.

Sebagian besar perencana keuangan akan memberi tahu Anda bahwa lindung nilai terbaik selama masa pergolakan bukanlah emas atau aset tunggal lainnya. Sebaliknya, Anda harus memiliki portofolio terdiversifikasi yang memenuhi tujuan Anda. Alokasi aset Anda harus mendukung tujuan tersebut.

 

Sumber

Baca juga: Ini Alasan yang Buat Bitcoin Bisa Kalahkan Emas