Bank Sentral Eropa dan Amerika kebetulan akan menekan terus Dolar Amerika (USD) akibat keputusan kebijakan keduanya. Kebijakan Bank Sentral Eropa yang memilih untuk menahan dahulu dalam ekspansi fiskal kemungkinan akan terus melemahkan Dolar Amerika. Hal ini disebabkan Bank Sentral Amerika yang masih berdebat antara FOMC untuk melanjutkan kebijakan ekspansif.

Bank Sentral Eropa dan Amerika

Keputusan Bank Sentral Eropa untuk menjaga kebijakan moneter kemungkinan dapat mendorong Euro untuk naik terutama terhadap Dolar Amerika. Oleh karena itu, kemungkinan Indeks Dolar Amerika akan turun akibat besarnya pengaruh Euro dalam indeks tersebut.

Walaupun begitu, Kepala Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menyatakan kekhawatirannya terhadap apresiasi yang terus terjadi terhadap mata uangnya. Hal ini disebabkan adanya kekhawatiran terhadap harga yang akan terpandang mahal dalam perdagangan internasional. Sehingga kemungkinan akan mengurangi pendapatan ekspor.

Namun, tidak semua bagian dari pemerintah khawatir terhadap apresiasi dari Euro terhadap Dolar Amerika. Hal ini disebabkan masih banyaknya pendukung terhadap kondisi perekonomian saat ini, dan dikabarkan bahwa kebijakan stimulus belum akan dilanjutkan untuk saat ini.

Grafik Indeks Dolar Amerika dan EURUSD Yang Dibalik

Namun, ketegasan Lagarde terhadap ketetapan Bank Sentral yang tidak akan mengintervensi nilai tukar, akan terus mendorong Euro. Sehingga kemungkinan, kedepannya, Dolar Amerika akan terus turun. Ditambah lagi dengan adanya hasil keputusan dari rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan menurunkan nilai USD kedepannya.

Baca juga: Lapangan Kerja Amerika Membaik Walau Masih Menghadapi Pandemi

Hal ini disebabkan dengan adopsi kebijakan target inflasi baru, yang kemungkinan akan terus mendorong kebijakan ekspansif oleh Bank Sentral Amerika. Target ini adalah target 5 tahun inflasi yaitu mencapai 1,6%. Keputusan ini juga ditandai dengan komentar dari Jerome Powell, Kepala Bank Sentral Amerika, yang nampaknya akan terus mendorong kebijakan ekspansif. Ditambah lagi dengan adanya angka pencairan dana pengangguran yang naik, nampaknya bank sentral akan terus mendorong pemberian dana bantuan.

Dampak bagi Indeks Dolar Amerika

Oleh karena beberapa kejadian tersebut, Indeks Dolar Amerika kemungkinan akan terus turun dari titik tertingginya di Bulan Maret 2020.

Grafik Indeks Dolar Amerika

Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, apresiasi yang sempat terjadi hanyalah koreksi kecil dari pergerakan turun. Hal ini disebabkan oleh pola grafik yang menunjukkan pola Bearish Flag. Walaupun indikator RSI dan MACD terlihat menunjukkan pergerakan naik, kedua indikator tersebut masih terlihat berada di bawah titik tengah. Pergerakan ini dapat mengindikasikan potensi apresiasi yang hilang.

Dengan begitu, apresiasi 7 hari dari USD, kemungkinan telah mengkonfirmasi pergerakan ke bawah dari pergerakan naik sejak 2011.Hal ini disebabkan harga yang gagal untuk naik melewati indikator MA-50 hari dan titik terendah September 2018 pada 93.81. Penutupan di bawah DMA-21 Hari atau pada titik 92.89, kemungkinan akan membawa ke 92.15. Jika tekanan jual masih sangat kuat, kemungkinan pergerakan akan terus turun mencapai 88.44.

Dilansir dari Daily FX

Tags: