Sepanjang tahun lalu kendati jumlahnya menurun PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil mencatatkan penjualan alat berat Komatsu sebanyak 1.564 unit. Penjualan ini adalah penurunan sekitar 46,54% dibanding penjualan Komatsu tahun sebelumnya sebesar 2.926 unit.

Penjualan Turun Tahun Lalu, Tapi di Atas Target

Tapi, walau mengalami penurunan dalam penjualan alat berat ini, UNTR masih melampaui target yang dipasang pada tahun lalu.

Pada 2020,  UNTR mematok target penjualan awal sebanyak 1.400 unit. Capaian ini juga melampaui perkiraan yang dipasang manajemen, yakni di angka 1.500 unit.

Laporan keuangan UNTR menunjukkan secara sektoral, penjualan alat berat sepanjang tahun lalu masih didominasi oleh penjualan di sektor tambang.

Target tersebut adalah sebesar 35% atau sekitar 574 unit serta sektor konstruksi yang juga sebesar 35% atau 574 unit. Angka tersebut disusul sektor kehutanan sebanyak 19% atau 297 unit dan sektor Agrikultur sebesar 11% atau 172 unit.

Tapi, sayangnya jika dilihat secara bulanan, penjualan alat berat Komatsu di Desember menurun cukup dalam. Penurunan ini terlihat dari 136 unit di November menjadi 83 unit di Desember 2020. Berarti, penjualan pada Desember tahun lalu menurun 38,9% secara bulanan.

Secara Bulanan Terlihat Turun

Sebanyak 47% penjualan pada Desember 2020 disumbang oleh sektor konstruksi, disusul sektor tambang sebanyak 27%, sektor agrikultur sebanyak 18%, dan sektor kehutanan sebesar 8%.

Baca juga: CSAP Siapkan Rp500 Miliar, Dorong Kinerja 2021 Hingga 2022

Adapun pangsa pasar Komatsu hingga Desember 2020 berada di angka sebesar 29%. Pada tahun ini, target penjualan alat berat UNTR berada di angka 1.700 unit.

Angka ini lebih tinggi 13,3% dari estimasi penjualan tahun lalu. Dengan jenis alat berat yang didominasi oleh tipe small-medium untuk konstruksi, perkebunan dan pertambangan.

Saat ini perusahaan masih yakin bahwa UNTR akan terus maju terutama dalam produktivitas ke depannya.

UNTR juga telah menganggarkan belanja modal sebesar $290 juta. Dana ini, naik dari tahun 2020 yang hanya $190 juta. Alokasi ini terlihat berasal dari kas internal sepenuhnya.

Sebesar 50% dari dana tersebut akan dialokasikan untuk segmen kontraktor pertambangan untuk mengganti alat-alat berat yang sudah usang.

Dilansir dari IPOTNEWS

Tags: