Selandia Baru kembali lockdown setelah 4 kasus baru Covid-19 yang berasal dari Auckland. Untuk saat ini yang akan menerapkan lockdown adalah Auckland dengan status daerah lain yang mulai siaga tingkat dua.

Selandia Baru Kembali Lockdown

Setelah 102 hari tanpa mengalami kasus baru Covid-19, New Zealand kembali mengalami 4 kasus baru yang berasal dari keluarga yang sama. Kasus ini terjadi di Auckland, yang membuat perdana menteri Selandia Baru, terpaksa menutup kembali aktivitas di daerah tersebut.

Dikabarkan bahwa mulai besok hingga Jumat, daerah Auckland, lebih tepatnya dari Wellsford hingga Pukekohe, akan kembali menerapkan penutupan kegiatan atau lockdown. Daerah lain di Selandia Baru juga dikabarkan akan menerapkan pembatasan sosial dengan status siaga tingkat dua.

Baca juga: Pound Sterling Akan Menghadapi Data Ketenagakerjaan

Seluruh kegiatan akan ditutup hingga pemberitahuan selanjutnya dan masyarakat diharapkan untuk tetap berada di rumah. Pengecualian hanya diberikan oleh perdana menteri kepada pekerja jasa yang memiliki peran penting  untuk daerah tersebut. Dikabarkan bahwa supermarket dan toko obat akan tetap terbuka dengan beberapa toko umum juga masih Dibuka.

Perdana menteri menyarankan agar masyarakat tidak panik dan melakukan pembelanjaan yang berlebihan. Selain itu masyarakat diharapkan untuk lebih berhati-hati dan mengurangi kegiatan sosial serta tetap menggunakan masker di luar rumah.

Untuk 4 kasus baru yang tercatat hingga saat ini belum terdapat sumbernya. Hal ini disebabkan 4 individu tersebut yang selama ini tidak pernah keluar dari negara bahkan daerahnya. Sehingga tidak mungkin tertular dari luar negara. Namun, pihak pemerintah masih akan menelusuri jejak 4 individu ini, akibat kemungkinan adanya sumber yang berasal dari dalam negeri.

Dampak untuk Dolar Selandia Baru

Akibat dari adanya kabar ini, Dolar Selandia Baru telah mengalami depresiasi terhadap beberapa mata uang utama. Mata uang yang tergolong dalam preferensi risiko tinggi ini mengalami penurunan terhadap beberapa mata uang pengaman seperti Dolar Amerika, Swiss Franc, dan Yen.

Tercatat bahwa sejak berita kasus ini keluar hingga berita ini ditulis, Dolar Selandia baru telah turun sekitar 0,55% dalam 6 Jam terakhir terhadap Swiss Franc, sekitar 0,20% terhadap Yen, dan sekitar 0,25% terhadap Dolar Amerika. Penurunan ini membuktikan bahwa kabar ini menjadi sentimen negatif bagi mata uang Selandia Baru.

Oleh karena itu, kemungkinan kedepannya mata uang ini akan turun mengingat negara sedang dilanda ketidakpastian dari kasus Covid-19 ini. Mengingat mata uang ini yang tergolong risiko tinggi, kedepannya kemungkinan penurunan akan terjadi hingga adanya kabar baik dari penanganan Covid-19 di negara tersebut atau berkurangnya pembatasan kegiatan.

Tags: