Pada hari Rabu lalu, nilai tukar rupiah berhasil menguat di bawah Rp15.000/USD. Bertolak belakang dengan penguatan yang terjadi terhadap rupiah, sektor ekonomi Indonesia secara umum justru semakin melemah.

Di hari yang sama, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp14.980/USD atau dengan kata lain menguat sebesar 0,33% dalam pasar spot. Meski demikian, data perekonomian dalam negeri menunjukkan sentiment negatif.

Peluang Nilai Tukar Rupiah Cetak Quintrick

Rupiah berhasil mencatatkan quatrick, penguatan dalam empat pekan beruntun, pada pekan lalu. pencapaian ini mendorong peluang untuk menghasilkan quintrick atau penguatan lima pekan berturut-turut. Untuk mencapai hasil tersebut, rupiah haus mencapai penguatan 1,07%, bukan perkara mudah namun peluang masih terbuka.

Bertolak belakang dengan harapan, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan PDB Indonesia pada triwulan pertama di tahun ini sebesar 2,97%. Menjadikan pertumbuhan secara year-on-year ini angka terendah sejak 2001.

Angka tersebut terbilang jauh dari konsensus pasar Indonesia yang diprediksi bahwa pertumbuhan PDB Indonesia tumbuh di angka 4,33%.

Selanjutnya, BPS mengumumkan bahwa terjadi inflasi sebesar 0,08% pada April 2020. Secara tahunan, inflasi berada di angka 2,67%.

Tingkat inflasi ini merupakan salah satu indikasi penurunan daya beli masyarakat, yang mengakibatkan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di masyarakat.

Baca juga: Berencana Longgarkan Lockdown, Malaysia Pangkas Suku Bunga Acuan!

Rentetan Catatan Buruk Sektor Perekonomian

IHS Markit juga melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia di angka 27,5, artinya mengalami kontraksi. Angka ini jelas jauh turun dari bulan sebelumnya di 43,5, catatan terendah PMI sejak April 2011.

Poin terpenting bagi investor saat ini adalah kemampuan melandaikan kurva penyebaran virus hingga perekonomian dapat berjalan kembali normal. Meski hingga kini rupiah masih terpantau stabil sejak awal pekan, bahkan menguat.

Hingga kini nilai tukar rupiah masih bertahan di angka Rp15.000/USD. Jika mampu tetap stabil, rupiah berpeluang mengalami penguatan di angka Rp14.930/USD. Support selanjutnya jika angka tersebut mampu diraih adalah Rp14.835/USD. Jika berhasil, peluang rupiah mencatatkan quintrick semkin terbuka lebar.

Resisten berupa Fibonnaci Retracement 50%, angka terdekat berada pada kisaranRp 15.090 -15.100/US$. Resisten ini mampu menahan pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa dan Rabu lalu.

Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret. Selama tertahan di bawah Fib. 50% tersebut, ke depannya peluang penguatan rupiah tetap ada.

Tags: