PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi pada 9 bulan tahun ini atau per September 2021 mencapai Rp 19,07 triliun, naik 34,77% dari periode yang sama tahun lalu Rp 14,15 triliun.

Sementara laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk naik 36,40% menjadi Rp 19,26 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 14,12 triliun.

Kondisi ini membalikkan keadaan pada September tahun lalu ketika laba BRI anjlok 43% menjadi Rp 14,12 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 24,78 triliun.

Dalam laporan keuangan yang dirilis perusahaan, kredit yang disalurkan BRI mengalami pertumbuhan 13,06% menjadi Rp 1.017 triliun dari posisi akhir Desember 2020 lalu (year to date/ytd) sebesar Rp 899,47 triliun.

Dari pertumbuhan kredit tersebut, tercatat nilai kredit bermasalah atau non performing loan (NPL gross) sebesar 3,29%, mengalami kenaikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,02%, sementara NPL net naik jadi 0,86% dari sebelumnya 0,78%.

Di periode yang sama, perusahaan mencatatkan pendapatan bunga bersih secara konsolidasi senilai Rp 19,31 triliun, tumbuh 27,90% YoY.

Dana pihak ketiga (DPK) perusahaan mengalami pertumbuhan 1,27% selama 9 bulan pertama tahun ini menjadi Rp 1.135,30 triliun dari sebelumnya Ro 1.121,03 triliun.

Net interest margin (NIM) naik dari sebelumnya sebesar 5,76% di akhir September 2020 menjadi 6,86% di akhir periode yang sama tahun ini.

Kecukupan modal perusahaan atau CAR (capital adequacy ratio) tercatat naik ke posisi 24,37% di akhir kuartal ketiga tahun ini dari sebelumnya 20,38% di akhir periode yang sama tahun lalu.

Total aset mencapai Rp 1.619,77 dari Desember tahun lalu Rp 1.511,80 triliun, atau bertambah Rp 107,97 triliun atau naik 7,14%.

Sebelumnya, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) (BBRI) Tbk resmi menerbitkan prospektus Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) kepada para pemegang saham perseroan dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Adapun jumlah dana hasil inbreng yang akan diperoleh perseroan sehubungan dengan aksi korporasi ini sebanyak-banyaknya sebesar Rp95,92 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan tujuan dari transaksi ini adalah memperkuat pertumbuhan bisnis perseroan di masa yang akan datang melalui pembentukan dan penguatan ekosistem ultra mikro. Hal itu ditempuh dengan menambah portofolio perusahaan anak yang selama ini bergerak dan berkinerja baik di segmen usaha ultra mikro, yaitu Pegadaian dan PNM.

“Perseroan memerlukan sumber pertumbuhan baru ke depan yaitu segmen usaha ultra mikro. Sehingga perseroan dapat tumbuh berkelanjutan dan memberikan kontribusi positif bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya, tak terkecuali pelaku usaha ultra mikro dan UMKM,” katanya menegaskan.

Sumber

Baca juga: Saham BBRI Masuk Rekomendasi Beli Mayoritas Analis, Mengapa?

Tags: