Seorang pendiri dari dua hedge fund berbasis crypto yang berumur 24 tahun telah mengaku bersalah terhadap penipuan senilai $90 Juta.

Kabar tersebut resmi dipublikasi pada Hari Kamis 4 Februari 2021 yang menyatakan bahwa Stefan He Qin, pendiri dari Virgil Sigma Fund dan VQR Multistrategy Fund, resmi bersalah atas penipuan terhadap investor.

Penipuan Senilai $90 Juta

Virgil Sigma adalah salah satu hedge fund yang dipasarkan sebagai kesempatan transaksi arbitrase dengan dana sekitar $90 Juta dalam kelolaannya.

VQR di sisi lain memiliki strategi lain dan hingga saat ini memiliki sekitar $24 Juta dalam dana kelolaannya.

Qin terlihat mengambil seluruh aset dari Virgil Sigma dan menghabiskannya untuk keperluan tersier pribadi. Selain itu ia juga menggunakannya untuk beberapa investasi spekulatif pribadi.

Kemudian ia berusaha mencuri uang dari VQR untuk memenuhi kebutuhan dari yang ia curi dari Virgil Sigma. Seluruh rencananya terlihat hanya seperti “gali lubang, tutup lubang” dan semua sudah terbuka di depan pengadilan.

Penipuan ini terjadi dari 2017 hingga 2020 dan saat ini Qin menghadapi hukuman hingga 20 tahun di penjara yang ditetapkan pada Mei 2020.

Desember kemarin, Securities and Exchange Commision (SEC) juga menuntut Qin atas kasus yang sama. Saat ini SEC telah membekukan seluruh aset dari Virgil Sigma Fund.

Wolf of Wall Street Modern

Kejadian seperti ini nampaknya masih sering terjadi terutama dalam kalangan anak muda yang ingin membentuk sebuah hal baru dan menghasilkan uang secara cepat.

Penipuan seperti ini bukan hal yang baru akibat sebelumnya juga terdapat penipuan yang lebih besar oleh salah satu perusahaan investasi dengan pendiri bernama Jordan Belfort.

Kisah tersebut sangat dikenal oleh mayoritas investor akibat ia sendiri yang mendapat julukan Wolf of Wall Street atau Serigala Wall Street.

Baca juga: DOGE Naik 900% Akibat Komunitas Ini, Menarik Perhatian Pasar

Nampaknya banyak kalangan muda yang mencoba membangun hal yang sama. Mayoritas memiliki niat baik namun ada yang ingin meniru, terutama dengan semakin mudahnya pembangunan perusahaan investasi dan hedge fund.

Oleh karena itu, investor harus lebih berhati-hati saat mendapat tawaran dalam pengelolaan uang. Hal ini disebabkan Indonesia juga tidak lepas dari hal tersebut dimana banyak contoh nyata yang sering dijuluki sebagai investasi “bodong”.